Panen Kebun Kelengkeng Milik Warga Semanu Hasilkan Buah Lebih dari 2 Ton

oleh -
Kelengkeng
Sumanto, pemilik kebun Kelengkeng. (KH)
iklan golkar idup fitri

SEMANU, (KH),– Banyak anggapan, bahwa di Gunungkidul, tanaman buah hanya cocok atau dapat berbuah dengan baik jika ditanam di wilayah sebelah utara atau zona batur agung, seperti di Patuk, Nglipar, dan lain-lain. Sementara tanaman buah tak mampu berkembang dan berbuah maksimal di wilayah lain.

Anggapan tersebut dipatahkan warga Semanu, Sumanto. Dia mantap mencoba membuat kebun buah Kelengkeng di Gunungkunir, Candirejo, Semanu.

Sumanto bercerita, awal menanam kelengkeng ia lakukan pada tahun 2017. Sehingga saat ini rata-rata umur pohon sudah sekitar umur 4 tahun. Jumlah kelengkeng yang ditanam sejumlah 138 pohon pada lahan seluas 2000 mete persegi.

“Kemudian pada tahun 2021 tambah 35 kelengkeng baru. Jenis kelengkeng yang ditanam adalah varietas New Chrystal atau Kelengkeng Kristal,” katanya belum lama ini.

Selama empat tahun ini, dia mengaku sudah panen sebanyak 4 kali. Panen di tahun ke-2 sudah panen 350 kg dengan harga Rp30.000,- per kilogram. Model penjualannya petik sendiri di lahan.

Pada tahun ketiga rata rata setiap batangnya mampu berproduksi 15 hingga 20 kilogram buah kelengkeng. Bahkan pada panen tahun keempat atau 2021 kemarin, ada beberapa pohon bisa berbuah dengan hasil 33 kilogram perbatangnya.

“Sampai saat ini dari 138 batang pohon kelengkeng masih 27 batang yang belum berbuah. Yang lain sudah dinikmati hasilnya setiap tahun,” ungkapnya.

Maka, jika tiap pohon rata-rata menghasilkan 20 kilogram, hasilnya mencapai sekitar 2 ton.

Cara Pengelolaan Pohon Kelengkeng

Ditanyakan rahasia keberhasilan penanaman kelengkeng hingga bisa berbuah lebat, Sumanto mengungkapkan, teknik penanaman dan cara perawatan yang diterapkan tak lepas dari perkenalannya dengan Iriawan Jatiasmoro, penggiat Kebun Insinyur.

Sumanto memperoleh saran agar penanaman kelengkeng dilakukan dengan sistem tanam dalam buis beton. Alasannya kebutuhan air dan pupuk bisa terkontrol.

Tekni tersebut tak lepas dari kondisi wilayah di kawasan kebun milik Sumanto yang ketersediaan airnya tak melimpah.

“Kenyataannya tanaman bisa tumbuh dengan baik serta mampu berbuah. Kalau untuk pemupukkannya dilakukan setiap 3 bulan sekali dengan dosis 200 gram per pohon. Kami pakai pupuk NPK. Selanjutnya mengenai pemasaran buah yang diproduksi kebun, selama ini tidak menjadi persoalan,” ujar dia.

Persis sesuai targetnya, para wisatawan yang sehabis berkunjung ke Pantai Wediombo menjadi pembeli buah yang kerap mampir dan suka memetik sendiri.

Selain itu Sumanto juga bekerja sama dengan Penggiat Subur Bumi, komunitas yang ikut memasarkan kebun kelengkeng. Berkat menggandeng pegiat Subur Bumi, banyak tamu yang datang ke kebun miliknya.

“Setiap hari selalu tersedia kelengekeng siap petik di kebun,” tutur dia.

Sumanto sejak awal memang berkeinginan meraup untung dari tingkat kunjungan wisatawan yang tingggi ke Gunungkidul.

“Saya tidak ingin hanya melihat mobil motor para wisatawan lalu-lalang lewat depan rumah menuju ke Pantai Wediombo. Saya kepingin juga menikmati keuntungan dari kunjungan wisatawan. Caranya agar mau mampir, saya berfikir membuat kawasan yang memang ‘berbeda’. Kemudian saya pilih tanaman kelengkeng. Wisatawan saat mau bisa petik sendiri, cara ini menguntungkan, sebab wisatawan merasakan sensasinya,” tukas Sumanto.

Beberapa waktu lalu, Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan (DPP) Gunungkidul, Ir. Luh Gde Suastini beserta rombongan berkunjung ke kebun kelengkeng milik Sumanto.

Dia menyebutkan, DPP juga turut melakukan pengembangan kelengkeng di Gunungkidul. Pada tahun 2021 seluas 70 hektar dengan rincian 40 hektar diplot di wilayah Semin, 20 hektar di Patuk dan 10 hektar di semanu. Termasuk di kelomlok tani di mana Sumanto tergabung.

“Petani kelengkeng khususnya di Gunungkidul baiknya mencontoh pola pengelolaan kebun seperti Pak Sumanto, sehingga berhasil berbuah dengan baik. Ternyata Gunungkidul sangat berpotensi dalam pengembangan buah seperti Kelengkeng, Alpukat, dan lainnya,” kata Luh Gde Suastini. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar