Omset KWT Pengolah Hasil Pertanian Turun 80-90 %

oleh -
Salah satu kegiatan praktek pengolahan ketela di P4S Putri 21. KH/ Kandar.
iklan-idul-fitri-smkn3-wno

GUNUNGKIDUL, (KH),– Pandemi Coronavirus Diseae (Covid-19) tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan saja, namun juga berdampak pada sektor perekonomian masyarakat.

Dengan adanya kebijakan Sosial Distancing serta Physical Distancing yang diberlakukan serta anjuran agar masyarakat berdiam di rumah guna pencegahan penyebaran virus, sangat berdampak pada berbagai bidang dunia usaha yang dijalankan masyarakat.

Tak terkecuali Kelompok Wanita Tani (KWT) atau kelompok dengan usaha sejenis yang mengolah hasil pertanian di Gunungkidul. Dampak yang dirasakan berupa penurunan omset cukup serius.

iklan kejari

Kasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Sustiwi menyebutkan, turunnya omset KWT mencapai 80 hingga 90 persen.

“Tidak adanya kunjungan dari luar daerah, sekolah libur, tempat – tempat wisata ditutup, rapat- rapat ditiadakan, kegiatan sosial pesta tidak diperbolehkan, kegiatan masyarakat/ keramaian tidak ada , dan kunjungan wisatawan tidak ada,” papar dia menyebutkan faktor-faktor penyebab penurunan omset KWT.

Faktor lainnya yang berperan menurunkan usaha diantaranya karena pengiriman online melalui trevel kesulitan serta bahan baku menjadi mahal dan susah didapat.

Dari 16 KWT di Gunungkidul yang memiliki jenis olahan yang sama memiliki nasib yang sama pula. Omsetnya turun drastis.

“KWT dengan olahan stik mocaf, enting-enting kacang, kembang goyang, patilo, lanting, criping pisang, sale pisang, olahan mocaf, tepung mocaf, gatot tiwul instan, kripik dan lain—lain menurun semua,” terang Sustiwi.

Sebelumnya KWT-KWT tersebut menjadi supplier di berbagai pasar diantaranya toserba Pamella, toko oleh-oleh, warung  terdekat, dijual online, dan melayani pesenan. Selama pandemic Corona ini sementara waktu kegiatan produksi sangat terbatas mengingat minimnya permintan. (Kandar)

hut gk kh

Komentar

Komentar