Nangka yang Ditanam di Hutan Keistimewaan Merupakan Hasil Eksplorasi dari 11 Propinsi

oleh -
Gubernur diy
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X dan Menteri ATR/ BPN, Sofyan Djalil hendak mengikuti pelaksanaan penanaman Nangka di Hutan Keistimewaan Nangka. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Gubernur DIY, Sri Sultan HB X menyampaikan terimakasih kepada KLHK atas realisasi penanaman pohon Nangka di DIY yang bertempat di wilayah Karangmojo, Gunungkidul.

Industri mebelair, kata dia tidak mungkin selamanya menjual atau mengekspor kayu jati. Sebab, harganya mahal. Di beberapa bagian negara Eropa, yang dipilih diantaranya kayu warnanya kuning dan putih.

“Kuning itu kayu nangka dan yang warna putih kayu petai. Sehingga sebelumnya pohon jenis tersebut banyak yang ditebang, kemudian diperlukan penanaman kembali,” kata dia dalam pencanangan Hutan Keistimewaan Nangka, Sabtu (29/1/2022) bersam 3 menteri. Antara lain, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan RI, Mahfud MD, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/ BPN, Sofyan Djalil

Ada 1.000 bibit nangka dan 2.000 bibit petai ditanam di kawasan petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, KPH Yogyakarta kemarin.

Sehingga, lanjut Sri Sultan, orientasinya tidak hanya diambil buahnya sebagai bahan baku Gudeg, kuliner khas Yogyakarta. Selain itu, produksi kayu nangka kelak juga diharapkan mendukung pelestarian seni budaya daerah diantaranya sebagai bahan pembuatan instrumen gamelan berupa kendang.

“Bahan pembuat Kendang harus kayu nangka utuh dan tidak disambung supaya suara tidak pecah. Metode pembuatan Kendang demikian itu berlaku baik untuk Kendang besar, tanggung maupun yang kecil,” tutur raja Keraton Ngayogyakarta ini.

Lebih jauh disampaikan, kayu nangka sebagai bahan baku pembuatan Kendang yang menipis menjadi kekhawatiran.

Dengan Dana Keistimewaan (Danais) selama ini telah dimanfaatkan guna mengembangkan potensi kebudayaan lokal. Salah satu bentuk kegiatannya yakni tiap tahun membantu pembuatan Gamelan dan instrumen pendukungnya baik bagi sekolah, kapanewon, kalurahan, dan lembaga serta kelompok-kelompok seni.

“Namun dalam peekembangannya, tidak hanya untuk lokal DIY, duta besar-duta besar dalam melakukan pendekatan politik dan budaya juga minta dikirimi gamelan juga,” kata gubernur.

Melalui pengiriman Gamelan, Yogyakarta punya kontribusi dan membantu pendekatan yang dilakukan para duta besar baik di Eropa, Amerika maupun di Asia.

“Di Eropa barat rata-rata meminta Gamelan, selain bagi duta besar, juga disediakan bagi orang asing yang belajar Gamelan. Sementara di Eropa timur seperti bekas bagian dari Rusia, diantaranya Celo, Kazaktan, Polandia dan sebagainya juga ikut meminta produk DIY, bukan Gamelan, tetapi Joglo,” ungkap Sultan.

Bagi gubernur, pengiriman gamelan, joglo dan lain-lain menjadi salah satu strategi diplomasi melalui politik dan budaya.

“Maka penanaman Nangka penting. Untuk pelestarian juga meraih manfaat besar yang lain,” katanya.

Jika dalam areal 30 hektar baik buah dan kayunya belum memenuhi kebutuhan pihaknya akan berupaya melakukan perluasan tanam, bekerja sama dengan pemerintah pusat terutama KLHK.

Dalam kesempatan yang sama, Siti Nurbaya Bakar memgatakan, latar belakang pembuatan Hutan Keistimewaan Nangka sebelumnya diawali pengembangan sumber benih nangka oleh Fakultas Kehutanan UGM. Bibit yang ditanam merupakan varietas hasil eksplorasi di 11 propinsi dan ditemukan 389 family.

“Produksi benih dilakukan uji keturunan dan provenans sesuai sifat induk yang diharapkan. Kawasan ini juga dijadikan tempat pendidikan dan pelatihan,” ujarnya. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar