Merebut Hati Pemilih Pemula

oleh -
Ilustrasi. (istimewa)
kadhung tresno

GUNUNGKIDUL, (KH),– Dinamika politik lokal di Gunungkidul semakin asyik dinikmati. Sejak terjadinya peristiwa mundurnya bakal calon bupati, kontroversi simbol Togog, insiden spanduk dan perpindahan inkumben ke partai lain, semakin mengukuhkan pesta demokrasi di Gunungkidul bakal gayeng. Peristiwa-peristiwa di atas menjadi bahan obrolan seru di angkringan dan media sosial. Sayang sekali, grup media sosial yang berbasis di Gunungkidul kurang marak dengan perbincangan ini dan bahkan ada yang justru alergi.

Tulisan sederhana ini bukan bentuk dukungan kepada kandidat atau parpol tertentu. Penulis bukan kader partai atau tim sukses dari pasangan calon kandidat Bupati. Tulisan ini sekedar bentuk empati penulis terhadap pentingnya relasi antara pemimpin dan pemilih. Apalah artinya pemimpin tanpa pengikut? Apalah artinya pemimpin jika tidak memiliki pengaruh? Apalah artinya pemimpin jika tidak memiliki visi yang jelas?.

Menurut data KPU DIY, jumlah pemilih pemula di Gunungkidul adalah  47.721. Sedangkan jumlah pemilih keseluruhan Pilkada  sebanyak 612.295. Tentu saja, jumlah ini belum final.  Jumlah pemilih pemula bisa bertambah atau berkurang. Jumlah pemilih pemula tersebut perlu diperhitungkan dalam peta politik lokal. Di sisi lain, hal ini dapat menjadi bagian edukasi politik kedaerahan yang sehat dan bermartabat.

Anak muda memiliki peran strategis dalam proses perubahan. Mereka ini penggerak roda perubahan sejarah di negeri ini. Anak muda juga memiliki pengaruh diantara teman sebayanya. Pertanyaannya  adalah bagaimana karakter anak muda milenial? Dalam konteks tulisan ini, lantas bagaimana merebut hati para pemilih pemula ini?

Dalam diskusi bertema “How to Win Over Millennials and Gen Z in The Indonesian Political Year” di Jakarta, ternyata menghasilkan catatan penting. Antara lain, generasi milenial kurang tertarik dengan dunia politik. Mereka beranggapan bahwa para elit politik tidak mengajarkan pada mereka tentang cara berpolitik yang sehat dan bermartabat.

Di pihak lain, survei yang dilakukan oleh Cameo Project (2020) menyimpulkan beberapa hal. Pertama,  70% dari generasi milenial mengatakan kalau keputusan yang mereka ambil sangat dipengaruhi oleh sekelilingnya. Kedua,  60 % mengatakan, pengalaman itu lebih baik dibagikan sewaktu atau setelah suatu hal. Ketiga, 50% mengatakan kalau pilihan harus relevan dengan yang mereka hadapi sehari-hari, apakah pengetahuan, kemampuan dan apapun yang akan ditawarkan. Keempat, 90% generasi milenial aktif di dunia digital, dengan mengandalkan media sosial dan search engine sebagai media yang paling banyak mereka gunakan.

Dari simpulan survei di atas maka dapat ditegaskan bahwa generasi milenial membutuhkan otoritas yang dapat dipercaya oleh dirinya. Generasi milenial membutuhkan figur yang dapat diteladani. Generasi milenial juga membutuhkan  segala hal yang terkait kekinian (aktual) dan kebaruan. Apakah dengan demikian selesai sudah “merumuskan” hati generasi milenial? Oh tidak. Tak semudah itu mendefinisikan generasi milenial, apalagi jika dikaitkan dengan pilihan-pilihan politik. Jika anda seorang cakada, kader parpol atau blantik sekalipun maka tebarkan jala pesona anda seluas mungkin  jika berhadapan dengan generasi milenial. Mereka ini adalah generasi yang unik dan dinamis.

Anak muda generasi milenial adalah pribadi-pribadi yang gelisah, ingin mengaktualisasikan dirinya, suka berkelompok, sifatnya lebih spontan, suka dengan hal baru (inspiratif), memiliki idealisme terhadap perubahan dan lekat dengan teknologi informasi gawai (gadget). Karakter inilah yang perlu dipertimbangkan untuk merebut hati para pemilih pemula. Dalam konteks meraup suara pemilih pemula, ketujuh karakter di atas dapat dimasukkan ke dalam 3 (tiga) kelompok pemilih, sebagaimana dilansir dalam riset Malik (2019)

Pertama, pemilih rasional, yaitu pemilih yang memiliki argumentasi dan alasan/motif untuk memilih. Pemilih jenis ini memiliki data dan terbuka terhadap diskusi politik, sebagai dasar pertimbangan memilih calon Bupati.

Kedua, pemilih emosional, yaitu pemilih yang memiliki hubungan emosional dengan identitas dimana ia dilahirkan. Identitas dalam konteks ini bias diartikan sebagai identitas agama, budaya, ideologi, kekerabatan dan lain-lain. Pemilih emosional jamak dijumpai di pedesaan atau masyarakat agraris.

Ketiga, pemilih rasional-emosional, yaitu pemilih yang lebih suka menarik diri dari perdebatan yang berhubungan dengan identitas agama atau simbol lainnya. Pemilih rasional-emosional lebih suka mengumpulkan informasi dari berbagai pihak untuk mempertimbangkan dan menentukan pilihannya. Dapat dikatakan, pemilih rasional-emosional adalah pemilih yang bersikap pasif dan suka mengamati.

Persisi di titik inilah menjadi jelas, tipe pemilih rasional-emosional lebih dominan dalam masyarakat kita. Hal ini disebabkan oleh terjadinya pergeseran nilai dalam masyarakat. Salah satunya adalah persepsi umum tentang politik. Politik dianggap sebagai “permainan kotor” dan “ajang rebutan kursi kekuasaan”. Hakikat politik mengalami peyorasi makna. Sehingga tidak banyak diskusi publik atau diskusi di media sosial yang dapat membahas isu terkait pilkada secara runtut, sistematis, obyektif dan berbasis data.

Sebagai akhir tulisan ini maka sangatlah penting untuk merumuskan konten kampanye yang menarik/menghibur (entertaintment), pesan politik yang menyentuh emosi, inspiratif dan melibatkan sosok anak-anak muda yang segar dan kreatif. Dan yang paling penting adalah bagaimana konten kampanye tersebut dijalankan dengan strategi politik komunikasi yang rasional. Inilah tantangan para tim sukses masing-masing calon Bupati Gunungkidul. Bukankah pada akhirnya, politik adalah seni  persuasif? ***

Penulis:

Wahyu Widayat

Eseis tinggal di Wonosari.

Komentar

Komentar