Meraup Jutaan Rupiah dari Manisnya Madu Lanceng

oleh -
Berternak Lebah lanceng menggunakan bambu sebagai sarang lebah. Foto : juju
iklan dispar
Berternak Lebah lanceng menggunakan bambu sebagai sarang lebah. Foto : juju
Berternak Lebah lanceng menggunakan bambu sebagai sarang lebah. Foto : juju

NGLIPAR, (KH) — Madu Lanceng, yang berasal dari lebah lanceng mampu meningkatkan perekonomian warga padukuhan Ngrandu, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Gunungkidul. Dalam sekali panen madu¬† yang dihasilkan mampu memberikan penghasilan hingga jutaan rupiah.

Lebah lanceng berbeda dengan lebah madu, karena ukuranya lebih kecil. Lebah yang bentuknya menyerupai lalat ini mulai dibudidayakan oleh warga Ngrandu sejak 2009 silam. Dengan membentuk kelompok Petani hutan yang beri nama Madusari, usaha ini terus berkembang dan menjadi salah satu binaan dari Dinas Kehutanan Gunungkidul.

Ketua Kelompok Budidaya Lebah Lanceng, Sugeng Apriyanto mengatakan,  budidaya lebah lanceng menjadi salah satu sumber mata pencarian warga untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Kini ada 22 kepala keluarga yang mengembangkan budidaya lebah tersebut.

“Untuk saya sendiri, saat ini sudah memiliki 1.500 koloni lebah, Alhamdulilah setiap minggunya sudah bisa panen untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” ungkap Sugeng saat ditemui di rumahnya, Senin (30/3/2015).

Menurutnya, budidaya lebah lanceng ini sangat mudah. Tempat budidaya lebah tanpa sengat ini hanya menggunakan bambu sebagai rumah lebah. Sementara makanan lebah tersebut hanya berasal dari bunga-bungaan yang tumbuh di sekitar rumah.

“Jadi, banyaknya madu yang didapat dari setiap koloni ini, tergantung banyaknya bunga, makanya kanan kiri rumah ini saya tanami bunga matahari. Kadang lebah juga menghisap bunga dari kelengkeng dan rambutan,” katanya.

Madu yang dihasilkan lebah lanceng memiliki tiga rasa yang khas di antaranya manis, pahit dan asin. Perawatan lebah ini cukup mudah, jika dibandingkan memelihara jenis lebah lainya. Kini komunitas budidaya lebah lanceng ini menyebar di berbagai daerah di Yogyakarta.

“Madu ini banyak manfaatnya, selain baik untuk kesehatan juga dapat menjadikan media penyembuhan berbagai penyakit. Propolisnya sebagai daya tahan tubuh, unsur kolagennya mampu menjaga vitalitas pria,” paparnya.

Menurutnya, madu lebah lanceng ini sudah dilakukan cek laboratorium dan sudah mendapat izin dari Badan Penelitian Obat dan Makanan. Sugeng mengaku, madu lanceng sudah dipasarkan secara luas di kota-kota besar hingga luar negeri, salah satunya Suriname.

“Sudah mendapat izin dari Badan POM. Kita juga sudah mempunyai merk sendiri untuk kemasanya. Memang, madu ini tidak dijual di toko maupun apotik, khusus kita jual di rumah saja,” ungkapnya.

Untuk sekali panen, 22 anggota petani lebah Madusari ini mampu menghasilkan 60 liter madu lanceng setiap bulannya. Jumlah ini masih sedikit, jika dibandingkan dengan permintaan konsumen. Satu liter madu dijual di pasaran seharga Rp 300 ribu. “Kita juga menyediakan paket hemat, 150 mili liter yang kita jual dengan harga Rp 50 ribu,” katanya.

Sementara, petani lebah lainya, Sugiyono mengungkapkan, memelihara lebah lanceng sangat mudah dilakukan. Menurutnya, selama persediaan bunga aman, lebah yang dipelihara tidak mudah pergi. Selain itu tidak membutuhkan perawatan yang intensif.

“Cuma kita biarkan saja, nanti tahu-tahu sudah panen. Budidaya lebah ini memang cocok sebagai pekerjaan sampingan,” ungkap Pensiunan Mantri ini.

Sugiyono mengaku, sekali panen, dengan 1.350 koloni lebah mampu memberi pemasukan Rp 1 hingga 1,5 juta rupiah. “Kita menjualnya melalui satu sentra di rumah pak Sugeng, karena di sana madu sudah dikemas dengan baik,” tambahnya. (Juju)

Komentar

Komentar