Menengok Program Keahlian Tata Busana di SMKN 2 Gedangsari

oleh -
kadhung tresno
Suasana praktek desain pakaian di SMKN 2 Gedangsari. KH/ Kandar
Suasana praktek desain pakaian di SMKN 2 Gedangsari. KH/ Kandar

GEDANGSARI, (KH)— Sesuai dengan potensi lokal, dengan bantuan dan dampingan PT Astra Internasional Tbk melalui Yayasan Pendidikan Astra- Michael D Ruslim (YPA-MDR), SMKN 2 Gedangsari telah memiliki sarana prasarana yang lengkap dan memadai khususnya Program keahlian Tata Busana Butik.

Drs Sudaryono selaku kepala sekolah mengatakan, animo masyarakat untuk bersekolah di SMKN 2 Gedangsari semakin tinggi, khususnya program keahlian Tata Busana Butik. Jurusan ini tergolong favorit dibanding dua jurusan lain yakni Akuntansi dan Teknik Kendaraan Ringan (TKR).

“Mungkin tertarik dengan fasilitas yang ada dan peluang ke depan. Angkatan tahun ini ada tiga kelas dengan jumlah 86 siswa,” katanya kepada KH, Selasa (9/2/2016).

Mendampingi Sudaryono, salah satu guru program Tata Busana, Hermin Susilowati, SPd menambahkan, Materi pembelajaran dalam setiap jenjang juga mengacu pada potensi lokal. Untuk kelas X semester I, tarafnya masih meniru, masih mengembangkan dari motif tradisional yang ada.

“Untuk semester II, sudah mulai mengembangkan motif berciri khas daerah, misalnya motif (batik) gedang / pohon pisang, jati, dan srikaya. Ini mengacu pada potensi Gedangsari atau umumnya Gunungkidul,” paparnya.

Dalam mengambil tema motif, siswa diberi kebebasan sesuai selera, apakah mengambil motif bagian bunga, daun, atau buahnya dari contoh motif yang disarankan. Dapat juga sesuai apa yang dilihat siswa di sekitar.

Untuk jenjang selanjutnya, tambah dia, silabus pembelajaran berisi penggabungan antara motif tradisional dan motif ciri khas daerah, kombinasi keduanya ada dalam satu karya kain batik. Sedang untuk tingkat akhir, pengembangan bersifat modern.

“Siswa diberi kebebasan baik pada motif maupun pewarnaan, apakah disemprot, dicelup atau colet. Dapat juga dikombinasilan dengan media cap,” imbuhnya.

Setiap siswa pada satu semester akan menghasilkan satu karya pribadi dan beberapa karya secara kelompok. Sudaryono mengaku, ada UKM diwilayah setempat yang membeli karya siswa untuk kemudian diberi finishing tambahan lalu dijual lagi.

Untuk lebih meningkatkan hasil pembelajaran serta meraih manfaat lebih luas yang bersifat jangka panjang, baik siswa dan guru melakukan banyak kegiatan diluar pembelajaran, seperti; ikut pameran batik dan fashion show, lomba desain, seminar, bahkan berulang kali dengan bantuan YPA-MDR mendatangkan desainer-desainer skala nasional sebagai pemateri dan pengamat langsung. (Kandar)

Komentar

Komentar