Legenda Gunung Bagus Desa Giring Paliyan

Jalan setapak naik menuju Pasarean di Gunung Bagus. KH/ Kandar.

Kemudian, agar penyakit kulitnya sembuh, maka Bagus Santiko harus menjalani ritual bersemedi, tapa brata atau menyendiri sebagai bentuk laku prihatin. Maka kemudian, mengembaralah ia didampingi beberapa abdi atau kinang pengasuh. Pengembaraan Bagus Santiko pada akhirnya sampai di sebuah hutan di wilayah Desa Giring. Di sebuah puncak bukit yang masih dikelilingi hutan lebat itulah Bagus Santiko melakukan semedi.

Raden Bagus Santiko menjalani semedi sampai menemui ajal. Setelah kepergiannya, selain perubahan penyebutan namanya menjadi Bondan Gejawan, maka kawasan bukit yang digunakan untuk bersemedi lambat laun dinamakan Gunung Bagus.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, Endro juga menuturkan, dua nisan lainnya di komplek tersebut diyakini sebagai petilasan Jaka Tarub dan Dewi Nawangsih. Dewi Nawangsih merupakan anak dari Jaka Tarub. Menurut Endro, cerita mengenai Jaka Tarub dan Dewi Nawangsih tersebut merupakan kisah yang lebih lampau. Menurut Endro, kedua tokoh tersebut diyakini lebih dahulu menghuni kawasan tersebut, sehingga dibuatkan nisan atau petilasan di tempat itu juga.

Seperti legenda Jaka Tarub yang umum didengar, Endro menjelaskan bahwa Jaka Tarub yang dibuatkan nisan di tempat ini adalah seorang tokoh atau pemuda yang gagah dan memiliki kesaktian. Pada suatu ketika, ia melihat 7 bidadari dari khayangan sedang mandi di sungai bernama Kali Gowang. Ia memang sengaja memilih salah satu bidadari untuk dijadikan istri.

Jaka Tarub tahu bahwa rimong atau selendang bidadari merupakan salah kekuatan untuk dapat kembali terbang ke khayangan. Lantas Jaka Tarub mencuri selendang milik Nawang Wulan, bidadari pilihannya. Seusai mandi, para bidadari kembali terbang ke khayangan.

“Tinggalah Nawang Wulan seorang diri kebingungan mencari selendang. Nawang Wulang kemudian menangis sembari menyumpah,” sambung Endro.

Sumpah atau janji Nawang Wulan berbunyi “Siapa saja yang dapat menolong dirinya, jika ia perempuan maka akan dijadikan saudara, namun jika laki-laki maka akan dijadikan suami”. Kemudian Jaka Tarub muncul dengan memberikan kain jarit yang dapat mengantar Nawang Wulan kembali ke khayangan.

Cerita berlanjut, setelah itu, hiduplah keduanya sebagai pasangan suami istri. Keduanya memiliki anak bernama Nawangsih. Selama berumah tangga, banyak kesaktian-kesaktian Nawang Wulan yang dipakai guna menyelesaikan aneka pekerjaan atau kebutuhan.

Misalnya saja, lanjut Endro, ketika hendak makan, Nawang Wulan cukup mengambil sebulir padi saja dari lumbung, lantas dimasak. Dari sebulir padi tersebut dapat berubah menjadi nasi satu bakul.

Pada suatu ketika, Jaka Tarub melanggar ketentuan atau permintaan Nawang Wulan. Saat menanak nasi seperti biasa, Nawang Wulan hanya memasukkan satu bulir padi saja ke dalam kerucut penanak. Ia berpesan kepada Jaka Tarub ketika hendak ditinggal ke sungai untuk mandi. Pesan berbunyi, “jangan sekali-kali membuka tutup penanak nasi sebelum Nawang Wulan pulang dan membuka sendiri tutup tersebut”.

“Karena rasa ingin tahu dan cukup penasaran, maka dibukalah tutup penanak nasi tersebut. Akhirnya bukan nasi sebakul yang dilihat tetapi berupa bulir padi biasa, masih sama ketika saat dimasukkan,” ungkap Endro melanjutkan cerita.

Setelah pulang, Nawang Wulan kaget dan menyatakan sangat yakin bahwa tutup penanak nasi telah dibuka. Karena masih berupa bulir padi lantas Nawang Wulan meminta kepada Jaka Tarub agar dibuatkan lesung atau lumpang untuk menumbuk padi.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait