Laku Hingga Manca Negara, Kerajinan Bambu Semin Jadi Andalan Selain Pertanian

oleh -
Pengrajin bambu di Semin mengerjakan pesanan. (KH/ Kandar)

SEMIN, (KH),– Di kabupaten Gunungkidul tanaman bambu merupakan salah satu potensi sumber daya alam yang cukup melimpah. Keberadaannya mendorong warga memunculkan ide untuk mendayagunakan bambu menjadi produk bernilai. Saat ini masyarakat telah menggarap Bambu menjadi beraneka produk kerajinan, baik produk fungsional seperti peralatan rumah tangga maupun produk mainan.

Produk hasil kerajinan bambu dari berbagai wilayah di Kabupaten Gunungkidul telah merambah pasar nasional bahkan internasional, hal ini dikarenakan bahan baku serta produk yang dihasilkan memang berkualitas.

Salah satu wilayah yang menjadi sentra kerajinan bambu berada di Desa Semin, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul. Letak sentra ini berada di 3 padukuhan diantaranya; Padukuhan Ngepoh, Mandesan dan Kepek. Setidaknya 70 persen warga dari masing-masing dusun tersebut selain bertani dan menjalani berbagai profesi lain juga memiliki unit usaha yang menghasilkan produk kerajinan bambu.

Ketua kelompok kerajinan bambu Mekar Sari, Siswodiharjo menuturkan, di wilayah ini produk kerajinan yang dihasilkan lebih cenderung berupa produk permainan anak-anak dan alat musik, diantaranya Seruling, Sempritan, Gangsingan, Kututan, Ethek-ethek dan lain-lain.

Menurutnya, lahirnya produk hingga kemudian bertambahnya warga yang menekuni pekerjaan sebagai pengrajin bambu tak lepas dari jerih payah para perintis pengrajin sekaligus pemasar yang telah memulainya sekitar tahun 1980-an. Salah satu generasi awal pengrajin sekaligus pemasar yakni alm. Marto. Ia dan beberapa pendahulu perintis lain telah membuat dan memasarkan aneka kerajinan bambu. Marto berkeliling di seputar kota Yogyakarta, Semarang hingga Surabaya.

Di periode waktu berikutnya, semakin banyak masyarakat yang turut berkecimpung pada sektor kerajinan ini menyusul tingginya permintaan pasar. Seiring bergeliatnya usaha kerajinan bambu beberapa warga berinisiatif mengambil peran sebagai pemasar. Mereka fokus pada pemasaran dengan menjangkau pasar yang lebih luas. Melalui pemasar atau tengkulak tersebut saat ini pusat perbelanjaan di kota besar telah rutin menerima hasil kerajinan dari Padukuhan Kepek, Mandesan dan Negpoh, Desa Semin. Bahkan melalui pemasar pula, setelah dikirim ke Surabaya, Jakarta dan Bali, sebagian kerajinan diekspor ke luar negeri.

“Biasanya tengkulak akan membagi pekerjaan orderan yang diterima ke beberapa pengrajin atau unit usaha. Jumlah permintaan dalam satu periode pemesanan setiap pengrajin atau unit usaha biasa menerima order antara 2.000 hingga 10.000 buah kerajinan,” jelas dia, Minggu, (02/02/2020).

Sektor kerajinan bagi warga di tiga dusun menjadi mata pencaharian yang dapat diandalkan selain mata pencaharian sebagai petani. Adapun jumlah kapasitas produksi rata-rata dalam satu tahun sentra kerajinan bambu untuk tiga dusun tersebut yakni berkisar antara 5 hingga 7 juta buah dengan nilai penjualan mencapai Rp. 5 hingga 6 miliar.

Komentar

Komentar