Ketua Pokdarwis Watu Kodok: Kami Sangat Berharap Panitikismo Membuka Portal

oleh -
Watu kodok
Ketua Pokdarwis Watu Kodok, Heru Sumarno. (KH)
iklan golkar idup fitri

GUNUNGKIDUL, (KH),– Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Watu Kodok masih berharap diberi ijin mengelola kawasan bukit yang aksesnya ditutup Panitikismo awal Februari 2022 lalu.

Saat ditemui baru-baru ini, Ketua Pokdarwis, Heru Sumarno mengaku heran dengan penutupan akses jalan menuju bukit yang telah dibuat secara swadaya itu. Yang membuat dia heran, tidak seluruh kawasan Sultan Ground (SG) yang ada kemudian dikelola Pokdarwis menjadi destinasi wisata telah dilengkapi surat kekancingan atau ijin dari Panitikismo. Namun tak ada persoalan. Yang menjadi polemik hanya kawasan bukit Watu Kodok saja.

Semenjak ditutup, dia telah meminta lurah setempat untuk membantu menjadi jembatan komunikasi antara Pokdarwis dan pihak Panitikismo. Dia ingin agar sesegera mungkin diketahui, apakah kekancingan kawasan bukit Watu Kodok telah dipegang investor atau belum. Berikutnya, jika ingin mendapatkan kekancingan agar jelas prosedurnya.

“Kalau ternyata sudah dipegang (ijinnya), sementara kami belum punya rencana apapun. Tentu butuh koordinasi dengan anggota,” kata lelaki yang akrab disapa Marno ini.

Dia berharap, upaya merintis kawasan Pantai Watu Kodok bersama kelompoknya dihargai. Dia mengaku telah memulai menjadi pelaku usaha dengan berdagang aneka minuman dan makanan cemilan di Pantai Watu Kodok sejak sekitar tahun 2010.

“Awalnya hanya ada 3 orang. Lama-lama bertambah lalu dibuatlah kelompok. Kami berusaha menata kawasan. Mempermudah akses menuju pantai, menyediakan fasilitas umum dan lain-lain secara swadaya,” kenang lelaki kelahiran 1971 ini.

Menurutnya, naiknya minat wisatawan berkunjung ke pantai yang berada di Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul ini setidaknya tak lepas dari kontribusi Pokdarwis.

Watu kodok
Portal menuju bukit Watu Kodok yang dipasang Panitikismo. (KH)

“Pemerintah tentu dapat pemasukan dari retribusi. Sedikit banyak kami punya sumbagsih. Kami sekedar jualan dan mengelola uang parkir. Hasilnya untuk melengkapi fasilitas di sini, diantaranya MCK dan tempat ibadah itu,” beber dia.

Dia mengungkapkan, anggota yang tergabung di Pokdarwis saat ini ada 150-an. Sekitar 40-an anggota belum memiliki lapak usaha. Untuk itu, rencana pengembangan di bukit Watu Kodok digagas. Upaya itu dimulai dengan pembangunan akses jalan menuju bukit. Lagi-lagi secara swadaya. Sedianya kawasan yang cocok buat camping itu guna mengakomodir 40-an anggota yang belum mempunyai lapak.

Dia masih sangat berharap dapat melanjutkan pengelolaan. Jika saja perlu mengurus ijin dari Panitikismo Marno menyatakan kesanggupannya.

“Semoga prosedurnya mudah. Kami jangan dilempar-lempar,” harap dia.

Terpisah, Lurah Kemadang, Sutono mengaku telah menemui pihak Panitikismo, Rabu, (2/3/2022) lalu. Ia membawa aspirasi Pokdarwis agar pihak Panitikismo bersedia membuka portal penutup jalan.

“Panitikismo yang diwakili Kanjeng Surya belum bisa memberikan jawaban soal permintaan pembukaan akses. Justru menunggu pihak Pokdarwis utamanya mereka yang berada di lokasi saat pemasangan portal, ditunggu kapan beraudiensi atau menghadap,” tutur Sutono.

Watu kodok
Pemandangan dari atas bukit Watu Kodok. (KH)

Sejauh yang ia tahu, sosialisasi dari pihak Panitikismo yang pernah ia dengar sebelumnya, ada kemungkinan bukit Watu Kodok mau dikerjasamakan dengan investor.

“Kemungkinan seperti itu ya, kemungkinannya,” ujar Sutono.

Hingga saat ini, setahu dia kekancingan bukit Watu Kodok belum dipegang siapapun. Sebab, tak ada pengusulan dan tembusan ke kalurahan mengenai ijin pengelolaan bukit itu.

“Biasanya tiap permohonan ada tembusan ke kami. Sampai saat ini tidak ada,” imbuhnya.

Menurutnya, prosedur pengusulan kekancingan tidak sulit. Hanya saja diberikan atau tidak, kewenangannya mutlak ada di Panitikismo. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar