Jamu Ramuan Tri Ningsih Ngawen Juara 2 Nasional

oleh -
Tri Ningsih dan jamu ramuannya. Foto: Yanti.
iklan dispar
Tri Ningsih dan jamu ramuannya. Foto: Yanti.
Tri Ningsih dan jamu ramuannya. Foto: Yanti.

NGAWEN, (KH)— Jamu tradisional menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga masyarakat Gunungkidul. Warisan turun temurun ini masih diminati masyarakat sampai saat ini. Berawal dari pasar permintaan jamu yang masih diminati masyarakat tersebut Tri Ningsih warga Tancep Ngawen atau yang akrab dipanggil Bu Ning mencoba mencari peruntungan dengan menjual jamu hasil ramuannya sendiri.

Ning memproduksi sendiri jamu, kemudian ia jual kepada para pelanggannya. Jenis jamu yang dijual bermacam-macam, di antaranya jamu temu lawak, kunir asem, kumis putih, bengle, beras kencur dan berbagai macam jamu lainnya. Keseluruhan jamu tersebut diramunya dalam bentuk bubuk, kapsul, dan cair.

“Saya mulai meramu jamu tradisional ini sejak 15 tahun yang lalu. Cara yang saya gunakan waktu itu juga masih sangat tradisional, belum dibantu alat-alat seperti sekarang ini,” ujar wanita paruh baya tersebut.

Kegigihannya untuk terus berusaha memproduksi jamu membuatnya rajin mengikuti berbagai macam seminar meramu jamu yang diadakan oleh Pemerintah dan berbagai lembaga lainnya, sehingga sampai saat ini kualitas ramuan jamunya semakin meningkat.

Kepada KH Ning menuturkan, bahwa ia memperoleh juara 2 tingkat nasional dalam lomba meramu jamu yang diadakan oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2013 lalu. Prestasi tersebut ia raih berkat ketekunan dan kerja keras.

“Waktu itu jamu andalan yang saya ramu dalam perlombaan adalah jamu untuk mengatasi sakit diabetes dan darah tinggi. Puji Syukur hasilnya memuaskan, dan saya memperoleh peringkat ke 2 se-Indonesia dalam meramu jamu,” ujar Ning disela-sela aktifitasnya menjual jamu.

Selain warga Desa Tancep Ngawen yang menjadi langganannya, Ning juga memenuhi pesanan dari berbagai daerah sekitar sampai pemesan dari luar kota. Untuk luar kota, biasanya sudah langganan via telpon, dan barang diantar melalui paket pos.

Ning menuturkan, bahan baku yang diperlukan untuk membuat jamu cukup mudah didapatkan. Selain menanam di pekarangannya sendiri, Ning juga membeli bahan baku dari lingkungan sekitarnya. Ning telah mampu mengolah bahan yang mudah dan murah dari lingkungan sekitarnya menjadi ramuan jamu yang bernilai ekonomi yang lebih tinggi. (Yanti/Jjw)

Komentar

Komentar