Harga Cabai Anjlok, Petani Banyak yang Menanggung Rugi

oleh -
cabai
Petani cabai asal Gunungkidul. (KH/ Edi Padmo)
iklan golkar Gunungkidul

GUNUNGKIDUL, (KH),– Harga komoditas Cabai berbagai jenis diketahui anjlok pada level harga yang sangat rendah. Petani Cabai yang sedang panen harus menelan ludah, modal yang mereka alokasikan untuk budidaya Cabai terpaksa tidak kembali, bahkan mereka harus menanggung kerugian yang cukup besar.

Anjloknya harga Cabai ini ditengarai karena melesunya ekonomi secara umum, imbas dari pembatasan kegiatan masyarakat pada penerapan PPKM Level 4, sehingga banyak kegiatan masyarakat yang terpaksa tidak bisa dilaksanakan.

Panen raya petani Cabai yang berbarengan diberbagai tempat yang terjadi saat ini, akhirnya tidak sebanding dengan penyerapan atau permintaan konsumen pasar, sehingga produksi Cabai melimpah, otomatis harga komoditas anjlok dengan drastis.

Keadaan ini akhirnya membuat banyak petani Cabai di Gunungkidul yang mengeluhkan harus menanggung kerugian, pasalnya, budidaya Cabai termasuk salah satu usaha pertanian yang membutuhkan modal besar.

Seperti yang disampaikan oleh Arif Sulistiyo (31), warga Padukuhan Gelaran, Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul. Pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai operator wisata gua Pindul  ini, mencoba mengadu nasib untuk budidaya tanam Cabai.

“Wisata sepi, hampir berhenti beroperasi, saya mencoba banting stir menjadi petani cabai, tapi lagi-lagi nasib, panen melimpah tapi tidak ada harganya,” kata Arif, Minggu (29/8/2021).

Arif mengaku, dengan niat untuk tetap bertahan di tengah kelesuan pariwisata yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarganya, dia memulai usaha budidaya cabai, tapi dengan keadaan ini, dia terpaksa harus kembali gigit jari, karena harus menanggung kerugian yang cukup besar.

“Ya bagaimana tidak rugi, modal bertani cabai itu besar, harga jualnya saat ini di tengkulak cabai rawit hanya Rp8.000 sementara kalau menjual sendiri Rp 12.000 perkilogram. Sementara cabai merah keriting hanya  Rp3.000 dan jika jual sendiri Rp5.000 perkilonya.” imbuhnya dengan nada lesu.

Arif melanjutkan, saat ini, ia menanam cabai di dua tempat yaitu di Gunungkidul dan juga di Kabupaten Sleman. Di Bejiharjo Gunungkidul, ia menanam 4.000 batang cabai baik keriting ataupun rawit. Dan 15.000 cabai ia tanam di lahan mertua yang berada di Jalan Gito-Gati Sleman.

“Modal menanam cabai itu cukup besar,  hitungannya sekitar Rp2,5 juta per 1.000 batangnya, bisa dihitung berapa modal yang harus saya alokasikan,” lanjutnya.

Walaupun jelas rugi, Arif megaku tetap harus menjual panenan cabai miliknya. Meskipun hasilnya sedikit namun ia masih bisa mendapatkan penghasilan.

“Walau tidak balik modal, minimal sebagai ongkos lelah, dijual rugi tidak apa-apa, daripada busuk,” tambahnya.

Keadaan yang sama juga dialami oleh  Tungkem, petani cabai  warga Padukuhan Jogoloyo, Kalurahan Duwet, Kapanewon Wonosari. Sejak seminggu yang lalu para petani mengeluhkan kondisi harga cabai saat ini yang terus anjlok.

“Harga Cabai keriting hijau saat ini hanya berkisar Rp2000 sampai Rp3.500 saja, petani rugi, modal kami cukup besar untuk bertanam cabai,” terang Tungkem.

Ia mengatakan, kondisi ini membuat dirinya harus mengalami kerugian yang cukup banyak. Bahkan, karena terlalu murah ia sampai membiarkan cabai yang siap panen membusuk di pohon.

“Sebetulnya panenan cabai bagus, dalam sehari saya bisa panen satu Kwintal atau lebih, tapi dengan harga seperti itu, jangankan untung, balik modal saja tidak,” lanjutnya.

Menurut Tungkem, harga cabai keriting bila normal biasanya mencapai Rp12.000,00 per kilo, bahkan jika nasib baik bisa lebih, jika harga standar sebetulnya bertanam cabai juga bisa untung lumayan.

“Ya bagaimana lagi, namanya juga usaha, kadang untung, kadang rugi,” pungkasnya. (Edi Padmo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar