Gunungkidul Pernah Menjadi Penghasil Kain Tenun Dengan Ribuan Pengrajin

oleh -
Gedung bekas penampungan hasil tenunan masyarakat Gunungkidul tahun 1964. insert: Paliyo. KH/ Kandar
iklan dispar
Gedung bekas penampungan hasil tenunan masyarakat Gunungkidul tahun 1964. insert: Paliyo. KH/ Kandar
Gedung bekas penampungan hasil tenunan masyarakat Gunungkidul tahun 1964. insert: Paliyo. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Dahulu di Gunungkidul terdapat industri atau produsen penghasil kain tenun yang menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Pabrik penghasil kain yang berdiri tahun 1964 ini berada di sebelah utara Stadion Jeruksari Wonosari.

Diriwayatkan oleh Paliyo, salah satu mantan pegawai pabrik, lokasi pabrik menempati bangunan tua yang dibangun sekitar tahun 1951. Sebelumnya, bangunan ini pernah beberapa kali berganti fungsi dan pemanfaatannya.

“Sebelumnya pernah dimanfaatkan sebagai gudang gula, lalu gudang tembakau Virginia. Pernah pula dipakai sebagai penyimpan Mil, bahan pangan pada masa sulit krisis pangan atau larang pangan (zaman gaber),” kenang Paliyo.

Paliyo merupakan pegawai yang masuk sejak awal didirikannya industri kain tenun dengan produk Blaco ini. Ungkap dia, gedung berukuran besar itu utamanya untuk menampung hasil tenunan oleh penenun yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan di Gunungkidul.

Lelaki yang tinggal di Jeruksari, Desa Wonosari ini menuturkan, selain itu juga sebagai tempat kursus atau pelatihan bagi calon penenun baru. Adanya pabrik tenun ini dilatarbelakangi karena tingkat kemiskinan masyarakat Gunungkidul yang cukup tinggi. Kata dia, kegiatan itu merupkan proyek pemerintah pusat untuk pengentasan kemiskinan, dahulu disebut Proyek ATBM PNPR Busana Yasa.

“Dalam satu minggu selalu ada jadwal kegiatan pelatihan tenun bagi masyarakat yang berasal dari semua kecamatan. Apabila dirasa telah mampu akan diberikan alat tenun sekaligus bahan untuk dikerjakan di rumah, mereka akan mendapat upah setelah menyetor hasil tenunan,” kata lelaki yang dahulu menangani bagian pelatihan ini.

Ia tidak ingat betul berapa besaran upah setelah menyelesaikan pekerjaan dengan menghasilkan kain berukuran panjang 40 meter dan lebar 92, 5 cm itu, yang jelas belum mencapai Rp. 100. Disebutkan, pada waktu itu jumlah tukang tenun di seluruh Gunungkidul cukup banyak, bahkan mencapai ribuan.

Sambung dia, pada waktu itu upaya pengembangan juga dilakukan, sehingga sekitar tahun 1972 muncul pabrik kain tenun dengan mesin, tepatnya berada di Jl. KH Agus Salim, Ledoksari, Wonosari. sebagian pegawai yang memiliki skill tinggi saat bekerja di pabrik pertama masuk ke pabrik baru ini.

Begitu juga dengan Paliyo, setelah ia bekerja di pabrik baru, aktivitasnya di gudang penampungan hasil tenun manual mulai berkurang, ia sesekali saja dalam satu minggu melalukan pengecakan. Hasil tenun di pabrik baru juga berupa kain Blaco, tetapi sedikit lebih lebih tipis dan halus karena bahan benang yang dipakai lebih kecil. Waktu dalam memproduksi kain saat itu dibagi dalam tiga shift.

Produk kain yang dihasilkan selain dijual di wilayah lokal dan Yogyakarta juga dikirim ke wilayah Klewer Surakarta. Setelah adanya kedatangan kain jenis Tetoron dari luar, omset kain tenun berangsur menyusut. Untuk mengantisipasi hal ini pemerintah daerah sempat mengeluarkan seruan untuk memakai produk lokal, namun usaha ini tidak begitu berpengaruh.

“Lantas pabrik tutup tahun 1989, selain kalah saing dengan kain Tetoron yang lebih halus, ada kemungkinan kepemilikan mesin 16 unit tidak mampu melayani permintaan,” kata pegawai bergaji Rp. 7.500 ini. (Kandar)

Komentar

Komentar