Dinamika Penjual Perkakas Pertanian Pasar Argosari

oleh -
Asih, penjual peralatan pertanian di kawasan Pasar Argosari, Wonosari. KH/ Kandar
iklan dispar
Asih, penjual peralatan pertanian di kawasan Pasar Argosari, Wonosari. KH/ Kandar
Asih, penjual peralatan pertanian di kawasan Pasar Argosari, Wonosari. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Awal musim hujan dan musim panen menjadi waktu baik bagi usaha yang dijalankan Kamisih, dan beberapa pedagang peralatan pertanian yang lain di Pasar Argosari. Sebab menjelang waktu tersebut tingkat kebutuhan penggunaan alat pertanian bagi masyarakat petani secara umum meningkat.

Sejak berdagang sekitar tahun 2006 silam, bersama suaminya ia hafal mengenai waktu-waktu kapan perkakas pertanian mengalami peningkatan permintaan. Sehingga sedikit banyak melakukan penambahan stok dagangan untuk beberapa jenis.

“Hari biasa atau sepi paling dapat Rp. 60-80 ribu, ramai saat menjelang musim tanam dan panen, kenaikan permintaan hingga dua kali lipat bahkan terkadang lebih. Jika musim tanam, gathul laku keras, jika masa panen sabit banyak dicari,” tutur Perempuan asal Cilacap ini, Senin, (7/11/2016).

Mengenai berbagai jenis dagangan, aneka peralatan pertanian ada yang didapat dari produsen lokal di Desa Kajar berupa sabit, gathul, cangkul, dan sebagian lain datang dari distributor dari wilayah Solo dan Surabaya.

Begitu juga dengan jenis peralatan lain berupa pisau, gergaji, palu, dan batu asah, serta beberapa peralatan bangunan sebagian kecil dari lokal dan sisanya dari luar. Dalam memasarkan produknya ibu dua anak ini membagi tugas dengan suaminya, ia sebagai penunggu lapak setiap hari di Pasar Argosari, sedangkan suaminya berkeliling di beberapa pasar tradisional .

Sudah puluhan tahun kamisih tetap setia menjalankan usaha ini. Selain diandalkan sebagai penopang utama ekonomi keluarga, motivasi yang lain ialah agar tetap mampu membiayai sekolah kedua putranya. “Yang satu sudah lulus SMA lalu ikut jualan bapak, satu lagi masih SMP,” imbuh Kamisih.

Sementara itu, Asih penjual lain saat ditemui menuturkan, sama halnya dengan Kamisih, lapak miliknya akan ramai saat musim tanam dan musim panen. Selain dari Kajar ia juga mendapat suplai barang dagangan dari distributor semarang.

Mengenai kabar adanya produk cangkul impor yang masuk ke Indonesia ia sendiri tidak begitu tahu, mengenai produk cangkul, Asih menjual sedikitnya ada dua jenis, satu berlabel merek Indonesia dan satunya ada cap dalam bahasa asing yang mencantumkan nama Negara England.

“Semua dari distributor Semarang, memang yang bermerek luar negeri harganya lebih mahal, bahkan harga terpaut separuhnya, harga yang dari luar mencapai Rp. 60 ribu-an. Bedanya ada pada kualitas kalau merek Indonesia logam/ besi cor, sedangkan yang mahal asli,” ungkapnya.

Asih mengaku, usaha yang ia jalankan yaitu melanjutkan usaha dari mertuanya, sebelumnya ia berjualan di kios yang berada di dalam pasar, semenjak dibangun gedung baru ia lebih memilih sewa kios di luar pasar. Usaha jualan perkakas pertanian itu sendiri telah dirintis oleh mertuanya sejak tahun 1990-an. (Kandar)

Komentar

Komentar