Fragmen Cing-Cing Goling Diperagakan, Sedot Perhatian Ratusan Warga

oleh -
Fragmen Cincing guling. Foto : KH/ Dwianjani
iklan dispar

Wonosari, (KH) — Tidak akan habis rasanya, bila menyebutkan satu demi satu kebudayaan dan tradisi yang dimiliki Kabupatem Gunungkidul. Seakan menjadi magnet bernilai magis, sejumlah tradisi itu hingga kini masih eksis digelar oleh warga.

Seperti yang hari ini dilakukan warga Dusun Gedangan, Gedangrejo, Karangmojo Senin (03/08). Untuk menyampaikan rasa syukur mereka atas keberhasilan panen, warga Gedangan  menggelar upacara adat yang dikenal dengan nama Upacara Cing-Cing Goling.

Dalam ritual ini, masyarakat yang dipimpin oleh pemuka adat berdoa untuk keselamatan seluruh penduduk dan kesejahteraan petani. Di tengah-tengah ritual, biasanya ditampilkan cerita rakyat yang disajikan dalam bentuk fragmen yang menyedot perhatian ratusan warga. Selain itu, pengunjung yang menghadiri upacara ini akan diberikan ayam rebus, lauk pauk, serta nasi sebagai ucapan terima kasih, karena sudah mengikuti rangkaian acara.

Dalam ritual tersebut, persembahan ayam tadi dibungkus dalam kemasan berbentuk tas yang terbuat dari janur yang telah dianyam. Kendati tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk menggelar upacara ritual tersebut, warga setempat rutin menggelarnya setiap tahun.

Pemangku adat desa setempat, Sugiyanto menjelaskan, bahwa tradisi ini untuk memperingati dua warga Keraton Majapahit yang melarikan diri dari Keraton dan membuat bendungan untuk mengairi lahan warga, sehingga tanaman tumbuh subur.

Tradisi yang dilaksanakan bersamaan upacara bersih desa ini, menceriterakan tentang keberhasilan pelarian prajurit Majapahit, Wisangsanjaya dan Yudopati. Saat sampai di daerah tersebut, mereka diganggu oleh para perampok yang terkesima dengan kecantikan serta kemolekan tubuh Wisangjaya yang saat berlari betisnya nampak molek. Namun Cemethi yang dimiliki Wisangjaya mampu membuat “Guling” para perampok.

“Istilah jawa, bila wanita menaikan roknya disebut “Cincing”. Sementara, pusaka itu mampu membuat para perampok tersebut bergulingan yang disebut “Guling” jelasnya. (Maria Dwianjani)

Komentar

Komentar