Dijamin Aman, Vaksinasi di Gunungkidul Dilanjutkan Menggunakan Vaksin AstraZeneca

oleh -
dewi irawaty
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty. (KH/ Kandar)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Pelaksanaan vaksinasi di Gunungkidul terus berjalan. Proggresnya, saat ini mencapai 10 persen dari target yang ditentukan. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Dewi Irawaty, Kamis (20/05/2021).

Dewi mengungkapkan, sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat saat ini vaksinasi tak lagi memakai vaksin Sinovac, melainkan menggunakan vaksin AstraZeneca.

“Rekomendasi status aman untuk peggunaan vaksin jenis ini telah dikeluarkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam lndonesia (PAPDI) dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM),” tegas Dewi saat ditemui di ruangannya.

Diakui, beberapa waktu yang lalu, vaksin tersebut sempat menimbulkan polemik karena ada sejumlah laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang dirasakan penerima vaksin. Namun demikian, dengan sudah turunnya rekomendasi dari dua lembaga kesehatan, pemerintah menjamin keamanannya.

“Masyarakat tak perlu resah dengan vaksin AstraZeneca ataupun jenis yang lain, fenomena KIPI bisa terjadi pada vaksin jenis apapun,” lanjut dia.

Walau sudah dinyatakan aman, Dewi tetap meminta kepada masyarakat, agar segera melapor  jika merasakan ada keluhan pasca divaksin.

“Jika ada laporan kepada kami, kami tetap akan mengkaji keluhan tersebut untuk memastikan apakah hal itu disebabkan efek vaksin atau bukan,” terang Dewi.

Demi keamanan, Dewi mengaku pihaknya terus mengawasi dan mengevaluasi perkembangan dari semua vaksin yang telah digunakan.

“Dengan adanya laporan yang masuk, jelas akan sangat membantu pengawasan sejauh mana efek vaksin yang telah disuntikkan,” lanjutnya.

Dewi mengungkapkan, ada beberapa perbedaan antara vaksin jenis Sinovac dan AstraZeneca. Vaksin AstraZeneca untuk dosis pertama dan ke dua membutuhkan jeda waktu antara 2 hingga 3 bulan. Rentang waktu tersebut jauh lebih lama di banding Vaksin Sinovac yang hanya butuh jeda 14 hari.

“Berdasar riset atau uji klinis, vaksin AstraZeneca menunjukkan efikasi lebih tinggi dalam mencegah virus COVID-19. Artinya lebih efektif,” papar Dewi.

Berdasar hasil uji klinis pula, vaksin AstraZeneca ini sangat efektif dan aman apabila diberikan pada warga lanjut usia (lansia).

vaksin
Distribusi vaksin di Gunungkidul. (KH)

Pihaknya berharap, demi mengejar target pencapaian vaksinasi, pasokan vaksin dari pemerintah pusat dapat berjalan lancar.

“Selain kelancaran distribusi logistik vaksin dari pusat, ketercapaian target vaksinasi juga dipengaruhi kesediaan masyarakat mengikuti vaksinasi,” ujar Dewi lagi.

Disinggung masih maraknya informasi simpang siur utamanya yang beredar melalui medsos menyangkut pandemi, Dewi juga meminta masyarakat bijak menyaring informasi. Adapun berita dan informasi valid yang dapat dipertanggungjawabkan bersumber dari lembaga atau institusi berwenang.

“Tidak ada pihak medis asal-asalan atau sengaja mendiagnosa seseorang dengan status positif Covid. Semua ada metodenya,” tegas dia.

sebelumnya, Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinkes Gunungkidul, Abdul Azis memastikan AstraZeneca yang digunakan saat ini berbeda dengan jenis yang telah dihentikan oleh pemerintah pusat. Perbedaan itu bisa dilihat dari kode produksi (batch) yang tertera pada vaksin.

“AstraZeneca yang dihentikan penggunaannya adalah batch CTMAV 547. Sedangkan jenis yang diterima dan digunakan oleh Kabupaten Gunungkidul adalah batch CTMAV 548, jadi berbeda nomornya,” terang Abdul Aziz. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar