Digitalisasi Bisnis yang Terbukti Menguntungkan

oleh -
digital
Penjual Seblak dan Sosis melengkapi usahanya dengan fasilitas pembayaran non tunai. Dia juga menjadi mitra berbagai marketplace. (dok. Marni)

YOGYAKARTA, (KH),– Perkembangan teknologi dalam dinamika kehidupan masyarakat dewasa ini melahirkan berbagai pola kebiasaan baru. Dengan adanya inovasi teknologi yang banyak diterapkan ke berbagai sektor, orang-orang mulai meninggalkan pola-pola konvensional dan tradisional. Memilih yang dianggap jauh lebih efektif, simple dan instan.

Pola kebiasaan itu diantaranya tercermin dalam pemenuhan kebutuhan barang dan jasa. Dalam berbelanja atau melakukan transaksi masyarakat sudah cukup akrab dan cenderung menyukai cara yang berbau digital.

Platform digital yang fokus memberikan fasilitas transaksi termasuk diantaranya berisi sarana untuk kegiatan jual beli produk cukup banyak muncul dan terus bersaing.

Melihat fenomena demikian, wirausaha dalam berbagai ukuran kemudian berangsur mengikuti perkembangan. Tak hanya terbantu dengan kemudahannya. Digitalisasi bisnis mampu menaikkan omset.

Seperti dirasakan penjual Seblak Sosis & Seblak Ridho yang terletak di Jl. Prof. DR. Soepomo SH., Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Bisnis skala kecil atau tergolong UMKM ini kini telah dilengkapi berbagai layanan serba digital.

Pemilik, Marni menyebutkan, usaha jualannya telah dimulai sejak 2017. Diawal buka, segenap layanan, mulai dari pemesanan dan pembayaran masih dilakukan secara manual. Artinya, pembeli harus datang ke kios, kemudian membayar pesanan menggunakan uang cash.

“Saat ini Sosis & Seblak Ridho sudah menyediakan fasilitas pembayaran non tunai mulai dari Shoopypay, Dana dan Gopay,” kata Marni.

Tak hanya itu, UMKM ini juga menyediakan kemudahan lain bagi para konsumen. Sebab, sosis dan seblak sudah tersedia di berbagai aplikasi mulai dari Shoppe, Grab dan Gojek.

“Mengikuti tren perkembangan teknologi benar-benar memudahkan,” imbuh Marni.

Dia mengisahkan, pemasaran secara online melalui medsos serta marketplace bisa dibilang menyelamatkan wirausahanya. Dulu, saat pandemi COVID-19 merebak, pemasaran benar-benar mengandalkan via online.

Dia mengaku harus terpaksa tutup saat kegiatan pembelajaran atau perkuliahan dihentikan. Sebab, pasar Marni kebanyakan mahasiswa. Dia menyebut, kebijakan PPKM merupakan faktor lain yang di luar kendalinya sehingga memaksanya tutup sementara waktu.

Saat PPKM dilonggarkan, Marni tak menampik bahwa menjalankan usaha yang mengutamakan fasilitas teknologi digital semakin memberi dampak baik bagi usahanya.

“Saat ini banyak yang pesan pakai marketplace. Bayarnya juga non tunai. Dengan mendaftar sebagai mitra di berbagai platform marketplace, tak hanya memperlancar namun juga menaikkan omset,” imbuh Marni.

Dalam sehari omsetnya kembali pulih sama seperti saat sebelum pandemi. Dalam sehari dia mampu mengumpulkan pendapatan sekitar Rp500.000. Tren konsumen dalam membeli olahan yang disajikan juga semakin banyak melalui online.

Penulis : Sekar Sari (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar