Dari Reog Tradisional sampai Modern Pentas dalam Pesta Rakyat

oleh -
iklan dispar

KARANGMOJO, kabarhandayani,– Pelestarian kebudayaan mesti dilakukan dilakukan secara menyeluruh. Demikian pula yang telah diusahakan pada acara Rasulan Desa Wiladeg, pentas reog menjadi salah satu pertunjukan utamanya.
Reog merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang kini justru semakin diminati warga masyarakat. Seni pertunjukan ini menjadi suguhan utama dalam acara-acara tertentu seperti, rasulan, peringatan hari kemerdekaan dan lainnya. Berjalannya waktu, membuat kesenian reog mengalami perkembangan sehingga memiliki berbagai jenis atau varian, yang dalam garis besar diklasifikasikan dalam 2 kategori utama, yaitu reog tradisional dan reog modern.
Pengamat budaya dari Desa Wiladeg, Slamet Haryadi mengungkapkan, untuk jenis reog tradisional atau yang sering disebut reog keprajuritan mempunyai ciri khas dengan menggunakan alat musik dhodhog (semacam kendang). Reog keprajuritan ini mempunyai pakem cerita Panji, yang di dalamnya terdapat prajurit kuda, prajurit udeng gilig, prajurit tombak, dan bacak doyok (punokawan).
Untuk Gunungkidul sendiri, menurut pengamatan Slamet masih cenderung didominasi oleh reog keprajuritan. “Namun ada pula yang sudah dimodifikasi menjadi jaranan,” ujar Slamet ketika ditemui KH di rumahnya Jumat (29/08/2014).
Slamet menjelaskan, untuk reog modern atau reog garapan merupakan jenis reog yang sudah diberi modifikasi-modifikasi. Misal, ditambah dengan musik campursari atau yang sering kita sebut dengan jatilan. “Anak-anak muda cenderung ke kesenian jatilan ini,” jelas Slamet, yang juga menjadi anggota LPMD Desa Wiladeg Urusan Kesenian.
Kepada KH, ia memaparkan untuk menjaga dan melestarikan seni pertunjukkan reog perlu ditanamkan kesadaran sejak dini. “Saat ini, anak-anak di Desa Wiladeg sudah mulai dikenalkan dan mementaskan kesenian, dengan harapan agar tetap mempunyai penerus untuk kelestarian kesenian reog tersebut,” paparnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, tidak seperti campursari yang selalu dipakai dalam suatu hajatan, maka seni pertunjukan reog sekarang ini hanya dipakai dalam prosesi seperti rasulan dan kirab budaya. “Maka dari itu, khususnya Desa Wiladeg yang merupakan rintisan Desa Budaya akan melakukan pembenahan organisasi sehingga group reog Desa Wiladeg akan legal,” jelasnya.
Ia berharap, terkhusus untuk Wiladeg agar tetap memiliki dan melestarikan kesenian reog di setiap padukuhan, maka dari itu masyarakat harus mendukung lahirnya Desa Budaya Wiladeg.
“Mari bersama-sama membangun Desa Budaya Wiladeg, dengan harapan ke depan juga bisa membuat warga sejahtera dari Desa Budaya ini,” pungkas Slamet. (Atmaja/Jjw).

Komentar

Komentar