Mampukah Guru Prakarya dan Kewirausahaan Menjadi Teladan?

oleh -
iklan dispar
Penulis: Sumaryanto, SPd.

KABARHANDAYANI, — Pada tahun pelajaran 2014/2015, semua sekolah di Indonesia wajib menerapkan kurikulum 2013. Salah satu mata pelajaran wajib bagi siswa pada kurikulum 2013 adalah mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan, yang khusus dipersiapkan bagi siswa untuk berwirausaha dengan cara belajar menciptakan beberapa hasil karya yang bernilai jual secara ekonomi.
Meski penerapan kurikulum baru ini masih dianggap belum waktunya diterapkan di setiap sekolah oleh banyak kalangan akademisi, namun untuk mata pelajaran yang satu ini pantas diapresiasi mengingat sempitnya lowongan pekerjaan di masa depan. Pada awalnya, mata pelajaran Kewirausahaan hanya diperoleh para siswa yang belajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kini mata pelajaran ini merambah ke semua Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD) atau sederajad.
Prakarya dan kewirausahaan sebagai pengetahuan transcience-knowledge bertujuan mengembangkan pengetahuan dan melatih keterampilan kecakapan hidup berbasis seni, teknologi, dan ekonomi. Hal ini disajikan dalam bentuk berbagai keterampilan dari mulai keterampilan membuat produk kerajinan tekstil, produk kerajinan limbah tekstil, produk elektronik, budidaya tanaman hias, budidaya tanaman pangan, produk pembersih, produk boga, serta berbagai kerajinan sederhana yang lain.
Sejak dahulu sebelum kurikulum 2013 ini muncul, pelajaran semacam ini sebenarnya telah lama ada. Pada berbagai macam kurikulum yang diterapkan pada sistem pendidikan nasional, setiap siswa dan bahkan mahasiswa selalu dibekali ilmu tentang kewirausahaan. Yang berbeda mungkin hanya nama mata pelajaran serta kalimat-kalimat dalam silabusnya saja yang sedikit berbeda. Bila kembali ke masa lalu, seorang anak SD pada tahun 1980-an pun telah dibebani membuat kipas dari bambu, kerajinan dari tanah liat, serta berbagai kerajinan anyam-anyaman untuk memenuhi tugas mata pelajaran keterampilan.
Meski pembekalan kewirausahaan telah dilakukan sejak lama, namun hingga kini jiwa kewirausahaan bagi setiap siswa dan mahasiswa yang telah menyelesaikan masa studinya belum begitu terasa. Mental wirausaha juga masih sangat rendah, terbukti dari banyaknya para pencari pekerjaan di setiap lowongan yang ada, kecilnya jumlah wiraswasta di Indonesia, serta banyaknya jumlah pengangguran di negeri ini.
Seseorang yang telah memiliki kemampuan memadukan teori dan praktik untuk menghasilkan sesuatu berarti orang tersebut sudah dapat dikatakan mempunyai jiwa wirausaha. Hal itulah yang saat ini sedang diupayakan tertanam dalam diri siswa untuk dapat meraih kehidupan yang lebih baik di masa depan dengan keterampilan yang dimilikinya melalui mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan.
Permasalahannya, mampukah guru pengampu mata pelajaran ini menjadi contoh dan sauri tauladan bagi anak didiknya?
Di dalam kurikulum sekarang ini, bentuk pengajarannya berpola student-centered (terpusat pada siswa), berarti siswa ditekankan untuk aktif sedangkan guru berfungsi sebagai fasilitator dan motivator. Hal itu bertujuan agar potensi dalam diri siswa lebih tergali secara bebas dan mampu menghasilkan karya yang beragam dengan tetap menerapkan karakter positif dalam dirinya.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Satu teladan lebih baik dari pada seribu nasehat.” Dari pepatah itu telah jelas, contoh perbuatan dinilai lebih baik dan berpengaruh dibandingkan dengan nasehat semata. Artinya, tujuan dan manfaat dari mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan ini akan lebih menyasar ke alam pikiran dan jiwa anak-anak apabila sang guru mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan adalah seorang wiraswastawan juga.
Setumpuk ilmu pada pelajaran yang dijejalkan ke siswa kita rasa nggak akan cukup apabila guru hanya memberikan teori dan praktek di sekolah tanpa memberikan contoh tindakan wirausaha yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bisa-bisa mata pelajaran ini cuma akan dianggap angin lalu oleh siswa karena sang pemberi teori tidak menjalankannya sendiri.
Belum lagi ditambah masalah tentang guru yang sama sekali tidak pernah mencoba berwiraswasta. Masalah guru penganut paham pekerjaan zona aman dan takut resiko berwirausaha, atau bahkan guru yang saat melamar pekerjaannya dulu menggunakan uang suap akan membuat tujuan mata pelajaran ini semakin sulit tercapai. Karena bagaimana pun juga ruh dan integritas seorang guru akan menjadi panutan bagi banyak siswa di berbagai segi kehidupan.
Akhirnya, apa pun dan bagaimana pun proses pendidikan yang dianggap baik sebenarnya membutuhkan keteladanan yang nyata. Seperti pada pelajaran Prakarya dan Kewiraisahaan ini, alangkah baiknya bila guru pengampu juga memberikan contoh dan tauladan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan menciptakan usaha ekonomi.
Telah diketahui bersama, keberhasilan mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan sangat dinanti-nantikan bangsa ini mengingat jumlah wirausahawan di Indonesia yang masih sangat sedikit. Seperti dikutip dari liputan6.com yang diunggah pada Juni 2014, proporsi wiraswasta Indonesia baru sekitar 0,24% dari populasi penduduk atau hanya sekitar 500 ribuan.
Angka ini dinilai masih sangat kurang untuk mendukung akselerasi pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan wiraswasta sebesar 2% atau sekitar 4,8 juta wiraswasta dari total populasi penduduk Indonesia. Sebagai perbandingan, jumlah wiraswasta di Amerika Serikat sudah mencapai 12% dari total jumlah penduduknya, Singapura 7%, China dan Jepang 10%, India 7% dan Malaysia 3%.

Penulis adalah Wartawan Kabarhandayani, sehari-hari sebagai tenaga pendidik di salah satu SMA di Gunungkidul.

Komentar

Komentar