“Sepinya penumpang membuat usaha angkutan tidak bisa berkembang. Selain itu usaha sol sepatu ini merupakan usaha warisan dari orangtua yang sudah buka sejak tahun 1970 lalu,” katanya kepada KH, Jumat (10/04/2015).
Ia menambahkan, lebih memilih usaha sol sepatu dari pada operator angkutan. Menurutnya usaha sol sepatu lebih bisa memberikan pemasukan yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan ia membantu saudaranya untuk diajak bekerja di bidang reparasi sepatu tersebut.
“Semakin banyaknya kendaraan pribadi menjadi salah satu faktor yang membuat keberadaan usaha angkutan terancam, membuat penghasilan tidak menentu. Sedangkan usaha sol sepatu lebih stabil untuk dijadikan pekerjaan utama,” jelasnya.
Ia mengaku, dalam waktu sehari, terdapat 5 hingga 10 orang yang memperbaiki sepatu maupun tas di tempat reparasi sepatu dan tas milik Dwi. Pelanggan yang datang sebagian besar memperbaiki alas sepatu dan sol sepatu.
Ia mematok tarif Rp 5 hingga 20 ribu untuk perbaikan sepatu, tergantung tingkat kerusakannya.
“Untuk tempat tidak menyewa sejak digunakan oleh orang tua saya beberapa tahun yang lalu,” imbuh Dwi. (Atmaja).