Dari Buruh Bangunan Menjadi Pengusaha Sangkar Burung

oleh -
iklan dispar

PALIYAN, kabarhandayani.– Minimal membuka lapangan kerja sendiri untuk diri sendiri. Itulah slogan Slamet (42), pengerajin sangkar burung, warga Padukuhan Kendal, Desa Giring, Kecamatan Paliyan.
Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai buruh bangunan, kini Slamet beralih profesi sebagai pengrajin sangkar burung. Bukan tanpa alasan, karena memang penghasilan lebih menjanjikan yang ia peroleh dari sangkar burung ini. Slamet gigih menekuni usaha yang ia kembangkan.
Kepada KH, ia mengungkapkan jika membuat sangkar burung bukanlah hal yang mudah, karena perlu ketekunan dan ketelitian dalam proses pembuatannya. “Saya belajar membuat sangkar selama satu bulan dengan saudara saya yang berada di desa Sodo, Paliyan. Setelah saya rasa sudah paham, kemudian saya coba membuat sangkar di rumah,” katanya.
Ketekunan dan kegigihan Slamet saat belajar membuat sangkar ini memang patut dicontoh, karena ia belajar dengan alat seadanya. Setelah beberapa kali mencoba, dan hasilnya laku di pasaran, kini Slamet memberanikan diri untuk membuat sangkar dalam partai besar.
Saat ini, sangkar burung yang dibuat Slamet sudah menjadi langganan kios-kios penjual sangkar burung di Yogyakarta. Dalam waktu seminggu Slamet mampu menyuplai 30-50 sangkar kepada pelanggannya. Keuntungan yang ia peroleh pun amat besar, yakni kurang lebih Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per bulan. Satu sangkar berkisar antara Rp 45-85 ribu tergantung kayu dan ukurannya.
Slamet menambahkan, memang harus ada tambahan atau inovasi baru untuk model sangkar burung. 
Hal ini justru membuat Slamet senang, karena ia menjadi lebih memahami model yang diminati oleh pelanggan dari waktu ke waktu.
“Jangan pernah takut untuk mencoba, dan belajar hal baru. Karena dari sesuatu yang baru ini kita mungkin mendapatkan hasil yang baru,” pungkasnya. (Atmaja/Hfs)

Komentar

Komentar