Dalam Satu Musim Panen Biji Mete Capai 30 Ton, Buahnya Dibuang

oleh -
Timbunan jambu mete di salah satu kebun di Desa Ngeposari. KH.
iklan dispar

SEMANU, (KH),– Panen biji jambu mete atau jambu mede dari kebun di beberapa dusun di Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu, Gunungkidul dalam satu tahun cukup banyak.

Ketua kelompok tani Sedyo Utomo di Dusun Ngaglik, Muhadi, mengungkapkan, dari empat dusun penghasil, meliputi Semuluh Kidul, Semuluh Lor, Ngaglik dan Mojo, dalam satu musim panenan biji jambu mete mencapai 30 ton.

“Mencapai segitu jika cuaca mendukung. Sebagian besar dijual tidak dalam bentuk olahan,” kata dia, belum lama ini.

Sebagian kecil memang dijual dalam bentuk olahan siap konsumsi. Tetapi sayangnya dalam jumlah yang lebih besar masih dijual dalam bentuk mentah. Biji yang belum dikupas dapat dijual dengan harga rata-rata Rp. 20.000 tiap kilogram.

Sementara untuk yang sudah dikupas, harganya mencapai Rp. 150.000 tiap kilogram. Kalau sudah diolah menjadi camilan, harga setiap kilogramnya berkisar Rp. 190.000.

Biji jambu mete yang dihasilkan di Desa Ngeposari tersebut sebagian besar tersedot ke pengolah di wilayah Karangmojo, dan Wonosari.

Selain biji, setiap kali panen tentu saja disertai buah jambunya. Sayangnya, buah jambu mete belum tergarap optimal. Bahkan dapat dikatakan buah jambu mete sama sekali tak diolah, hanya dibuang dibiarkan membusuk di kawasan kebun.

Padahal, Muhadi sebutkan, pelatihan pengolahan buah jambu mete berulang kali didapat.

“Pernah dilatih dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY dan kabupaten. Diantaranya membuat olahan abon, sirup dan camilan berbahan buah jambu mete,” terang Muhadi.

Komentar

Komentar