Butuh Solusi Terpadu Mengatasi Siswa Di Bawah Umur Nekad Bermotor

oleh -
Siswa di bawah umur yang nekad naik motor. KH/Juju.
iklan dispar
Siswa di bawah umur yang nekad naik motor. KH/Juju.
Siswa di bawah umur yang nekad naik motor. KH/Juju.

WONOSARI,(KH) — Butuh solusi terpadu untuk mengatasi permasalahan adanya anak di bawah umur mengendarai motor ke sekolah. Hasil penelusuran yang dilakukan KH, upaya menekan angka siswa pengendara motor di bawah umur sebenarnya juga telah dilakukan oleh masing-masing sekolah di Gunungkidul, meski belum mampu menyelesaikan problema tersebut secara tuntas. Beberapa upaya yang telah dilakukan masing-masing sekolah antara lain dengan sosialisasi kepada orangtua siswa, membuat surat pernyataan tertulis, sampai langkah sweeping di tempat penitipan kendaraan.

Berbagai upaya yang telah dilakukan beberapa sekolah tersebut ternyata masih terkendala oleh beberapa masalah, seperti sulitnya ketersediaan angkutan pada trayek-trayek yang justru diperlukan oleh para pelajar yang ada di Gunungkidul. Selain itu, ada beragam faktor yang dihadapi dalam keluarga ditengarai juga membuat membuat anak di bawah umur nekad membawa sepeda motor ke sekolah.

Salah satu sekolah di wilayah Wonosari, seperti yang dilakukan SMPN 2 Wonosari telah membuat ketentuan setiap siswa harus membuat pernyataan tidak membawa motor ke sekolah. Pihak sekolah juga memberikan sosialisasi kepada orang tua murid agar siswa yang belum cukup umur tidak membawa kendaraan pribadi. Kepala Sekolah SMP N 2 Wonosari Drs Suparto mengatakan, sebelumnya beberapa kasus sempat terjadi seperti motor yang di coret atau di gores oleh temannya. “Karena itu pihak sekolah melarang siswa yang membawa sepeda motor,” katanya, Kamis (07/05/2015).

Namun demikian, Suparto berpendapat, fenomena siswa di bawah umur yang nekad naik motor sulit untuk dihilangkan, karena problema di lapangan memang ada beberapa wilayah di Gunungkidul masih tidak tersedia angkutan umum. Menurutnya, perlu kerjasama berbagai pihak untuk memecahkan masalah yang ada ini. Ia berharap, selain pihak sekolah, Dishubkominfo, kepolisian, dan juga masyarakat perlu menyusun strategi dalam langkah riil untuk mengatasi permasalahan siswa di bawah umur nekad mengendarai motor untuk bersekolah.

Menanggapi hal tersebut, Kabid Transportasi Dishubkominfo, Kuncoro mengungkapkan, saat ini Dishubkominfo sedang melakukan kajian terhadap beberapa trayek angkutan umum yang ada di Gunungkidul. Menurutnya, jika sebuah tempat memang kesulitan dalam keberadaan transportasi, bukan tidak mungkin akan diberikan trayek bus sekolah seperti yang sudah dilakukan di dua tempat yakni Gedangsari dan Sokoliman.

“Itu salah satu usaha kami agar anak sekolah tidak lagi kesulitan saat pergi ke sekolah. Perubahan trayek akan kita lakukan pada tahun ini agar kendaraan yang beroperasi dapat digunakan oleh masyarakat secara optimal,” tandasnya. (Atmaja).

Komentar

Komentar