Bisikan “Tusuk Dada” Yang Didengar Nur Bukan Ulah Lelembut

oleh -
Peserta yang hadir mendengarkan testimoni dan penjelasan pakar kesehatan jiwa. KH/ Yudhis.

Dipandu dr Ida Rochmawati, testimoni pertama disampaikan Nurhidayati. Suasana mendadak menjadi tenang saat perempuan yang kini mengasuh Ponpes Tahfidz Qur’an ini mulai berbicara. Nur berkisah, ketika dalam episode psikotik memuncak, ia pernah melakukan percobaan bunuh diri. Ia mengaku sempat hendak memotong tangan. Tak hanya itu saja, ia juga sempat hendak menceburkan diri ke sumur.

“Waktu itu saya mendengar bisikan agar menusuk dada, ada bisikan memotong lidah, memotong tangan, juga disuruh menceburkan diri ke sumur,” ungkap Nur.

Dirinya bercerita, keanehan itu ia alami setelah serangkaian peristiwa hidup dilalui. Ia pernah mengalami sakit fisik yang berulang kali kambuh saat tinggal di pondok pesantren ketika hendak menghafal Qur’an. Nur sebelumnya juga pernah menjadi pengasuh di sebuah Ponpes namun kemudian dicampakkan, ia tiba-tiba diminta berhenti menjadi guru ngaji. Peristiwa itu terjadi saat ia tinggal di Bogor Jawa Barat.

Ia terpukul. Nur mengalami depresi berat. Karena kondisinya itu, oleh saudara ia mengaku dibawa pulang ke Patuk. Sekembali di rumah orang tuanya di Pengkok Patuk, Nur mengalami goncangan fikiran yang hebat. Lagi-lagi kenyataan pahit yang lain harus dialami. Atas suatu sebab, suaminya kemudian menceraikannya. Persis keruntuhan keluarganya terjadi tidak berselang lama dengan gempa hebat yang mengguncang Jogja tahun 2006 silam. Atas goncangan kejiwaan berat itu membuatnya harus dirawat di RS Sardjito. Di rumah sakit tersebut, Nur menjadi paham, ia didiagnosis mengalami skizofrenia, sebuah gangguan jiwa tergolong berat.

Pada hari-hari saat mengalami gangguan jiwa berat, Nur mengaku, hal-hal yang dialami menjadi aneh. Ia mengaku selain mendengar bisikan perintah melakukan suatu tindakan yang membahayakan nyawanya. Ia juga pernah mengalami melihat banyak ular bergelantungan di tembok. Ia juga merasa banyak ular mengerubuti tubuhnya. Setiap kali melihat tembok terkadang juga muncul gambar-gambar suaminya. Nur merasakan, seolah di TV dan radio juga menyiarkan kejelekan dirinya. Bahwa ia salah, ia sombong dan hal-hal negatif lainnya.

“Saya sangat jelas melihat itu semua. Saya berusaha meyakinkan orang-orang di sekitar saya,” kata Nur menyampaikan keanehan yang dialami.

Nur sempat dirawat di rumah sakit jiwa. Sepulang dari rumah sakit, kondisinya terus dipantau oleh keluarga. Dirinya lantas menjalani pengobatan rutin di RSUD Wonosari. Sejumlah obat harus ia minum secara teratur. Dengan begitu gangguan suara yang sempat mengendalikan dirinya hilang, bisikan yang pernah dituruti yang berujung percobaan bunuh diri tak ada lagi.

“Pengobatan alternatif, ke orang pintar atau paranormal, bahkan metode rukyah tak membuat saya membaik. Aneka ritual yang dijalani tak berpengaruh,” tegas dia.

Testimoni survivor skizofrenia dan bunuh diri serta review pakar kesehatan jiwa. KH/ Kandar.

Anggapan bahwa Nur diganggu makhluk gaib atau yang disebut lelembut dan sejenisnya tak terbukti. Ulasan dokter ahli, Dr. dr. Budi Prastiti, MSc. SpKJ., yang menjadi nara sumber pada dialog menerangkan, bahwa Nur mengalami halusinasi pendengaran dan halusinasi penglihatan.

“Harus diintervensi obat sehingga gangguan itu hilang,” terang dr. Budi Prastiti. Dirinya juga meyampaikan kepada hadirin agar tak sungkan memeriksakan ke medis jika mengalami permasalahan kejiwaan. Hal sepele, seperti gangguan fikiran, depresi, dan keluhan lain yang erat dengan kejiwaan perlu segera mendapat penangangan medis. Ditegaskan oleh dr. Budi Prastiti, gangguan kejiwaan dapat diatasi dan diobati, sama halnya dengan sakit fisik.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar