Batik Tulis Tancep, Batik Khas dari Gunungkidul

oleh -
Suasana Pembuatan Batik Tulis di Sentra Batik Tancep.KH/Hari
iklan dispar
Suasana Pembuatan Batik Tulis di Sentra Batik Tancep.KH/Hari
Suasana Pembuatan Batik Tulis di Sentra Batik Tancep.KH/Hari

NGAWEN,(KH)— Ketika mendengar kata batik mungkin semuanya akan mengarah ke daerah Solo, Pekalongan, dan wilayah lain di Indonesia, tapi sebenarnya ada juga Batik hasil karya warga Gunungkidul yaitu Batik Tulis Tancep yang berada di Kecamatan Ngawen.

Kabupaten Gunungkidul yang sebagian besar penduduknya adalah bermata pencahariaan sebagai petani dan wiraswasta , terdapat juga sekelompok masyarakat yang mempunyai keahlian membatik turun temurun dari para orang tua dulu yaitu masyarakat Desa Tancep , Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul dan hasil karyanya pun tidak kalah saing dengan batik batik tersohor lain seperti dari Solo dan Pekalongan.

Batik Tulis Tancep mempunyai pangsa pasar khusus dan mampu bersaing dengan batik dari luar daerah, ini disebabkan karena Batik Tulis Tancep mempunyai keunikan tersendiri bagi para pecinta batik yaitu pewarna batik yang berasal dari bahan alami dan ramah lingkungan. Bahan pewarna yang dipakai terdapat di lingkungan sendiri seperti akasia, daun mahoni, tunjung dan masih banyak bahan pewarna alami yang dipakai.

Dengan semakin banyaknya peminat dan anjuran bagi para Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta anak anak sekolah baik dari jenjang SD, SMP , SMA sederajat untuk memakai batik, membuat para pengrajin batik khas Gunungkidul meningkat pesanannya. salah satunya adalah Usaha ”Daru Batik Tancep” yang beralamat di Padukuhan Sumberan, Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul.

Daru Sayang Diputra (36) salah satu pelaku usaha batik tulis tancep yang memulai usahanya sejak tahun 2009. Daru yang juga merangkap sebagai Dukuh Sumberan ini dibantu oleh 30an karyawan yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga . untuk yang bekerja di rumahnya ada 10 orang karyawan sedangkan selebihnya membatik di rumah masing masing.Daru mengatakan bahwa tidak ada pelatihan khusus yang diperuntukkan kepada para pembatik karena menurutnya hampir 80% masyarakat desa Tancep mampu membatik , hanya untuk tahap pewarnaan memang ditraining terlebih dahulu dan sekarang sudah mahir.

“Dulu sewaktu merintis usaha ini cukup sulit untuk mencari karyawan mas, dikarenakan persepsi masyarakat sini itu batik tidak punya masa depan dan lebih enak jadi petani. merubah pemikiran itulah yang dulu membutuhkan proses yang cukup lama tapi pada akhirnya masyarakt merasakan sendiri manfaat dan masa depan batik tulis tancep itu mempunyai masa depan dan bisa digunakan sebagai mata pencahariaan selain bertani dan berdagang.”tambah Daru, Senin (20/4/15)

Peminat Batik Tulis Tancep dari luar Gunungkidul,terutama kalangan menengah keatas menyukai warna alami yang hasilnya lebih soft,sedangkan masyarakat Gunungkidul lebih suka warna dengan corak yang meriah dan cerah. Daru juga menambahkan bahwa ketika tahun ajaran baru dan setiap menjelang lebaran pesanan batik meningkat cukup tajam.

“Untuk penjualannya selain lokal juga keluar kota, akan tetapi juga ada yang pesan dari luar negeri , omsetnya sendiri cukup lumayan kisaran Rp.25 juta /bulan. Selain dijual lembaran kain batik,juga dijual yang sudah jadi seperti baju, taplak meja dan lain-lain . Harganya cukup terjangkau untuk cap kombinasi tulis kisaran Rp. 90.000 – Rp. 120.000 sedangkan murni tulis kisaran Rp. 200 ribu – Rp. 2 juta,” pungkas Daru. (Hari)

 

Komentar

Komentar