Apakah Bahasa Jawa Diskriminatif?

oleh -
iklan dispar
Penulis: Sumaryanto

KABARHANDAYANI,– Secara harfiah kata “caos” dan “paring” memiliki arti yang sama, namun bila dilihat dari maknanya seperti yang terdapat pada contoh kasus penggunaan kedua kata tersebut pada artikel pertama, ternyata begitu besar perbedaannya.
Secara mudah seseorang yang ingin menggunakan kata-kata ini berarti ia harus berpikir beberapa kali tentang siapakah orang yang diajak bicara. Apakah dia memiliki status sosial ekonomi yang tinggi atau tidak, serta berbagi hal yang melatarbelakangi penggunaan kata itu. Keterkaitan tentang hal ini juga akan dirasakan seseorang ketika berbicara bahasa Jawa bentuk krama.
Haryana Harjawiyana dan Supriya dalam bukunya Marsudi Unggah-Ungguh Bahasa Jawa menjelaskan, penggunaan kata-kata semacam itu sebenarnya bukan dimaksudkan untuk mendiskriminasikan seseorang atau pun sebuah golongan. Hal ini menjadi bagian dari bahasa karena orang Jawa dianggapnya selalu ingin mengedepankan rasa hormat pada orang lain bahkan dengan bahasa sekalipun. Berbagai tingkatan kata itu diucapkan semata-mata karena keinginan seseorang dalam menunjukkan sopan-santun dalam interaksi sosial dalam masyarakat.
Rumitnya tentang tataran penggunaan kata-kata dalam bahasa Jawa yang cukup berbau diskriminatif ini memang sempat memunculkan kontroversi. Pada tahun 1966 sebuah buku sosiologi yang ditulis oleh Nursalut dan Fernandes mengemukakan, bahwa bahasa Jawa jenis krama termasuk problema masalah sebagaimana tersebut di atas merupakan sebuah penghalang terhadap proses demokratisasi, karena ditemukan adanya sebuah fakta yang mempertimbangkan strata sosial. Bahkan dalam buku itu juga menyarankan agar penggunaan bahasa Jawa krama dihilangkan.
Apa pun alasan yang disuguhkan mengenai latar belakang penggunaan bahasa Jawa krama serta beberapa kata-kata tersebut, fakta diskriminatif memang tak bisa hilang begitu saja. Hal ini seakan memanjakan dan melanggengkan kedudukan orang kaya serta orang yang senantiasa memiliki kedudukan tinggi.
Karena hal ini, banyak anak-anak bahkan orang dewasa yang enggan praktek bicara bahasa Jawa krama dalam kehidupan sehari-hari, karena takut dinilai salah dan dinilai tidak menghormati lawan bicara. Perlu diketahui, seorang yang terkadang salah dalam menggunakan bahasa Jawa krama biasanya akan langsung menjadi bahan omongan, atau diberikan stigma tidak menghormati orang lain.
Sebuah hasil budaya termasuk bahasa, memang tak bisa dilepaskan oleh para penggunanya sendiri. Masyarakat sebagai pengguna bahasa adalah kelompok yang memiliki hak untuk menggunakan sebuah bahasa itu atau tidak. Namun, bila dilihat dari perkembangan era modern ini, bukan hal mustahil bila bahasa Jawa krama akan semakin terkikis. Ini perlu diperhatikan oleh pemerhati bahasa Jawa serta masyarakat Jawa yang masih memiliki rasa cinta terhadap hasil kebudayaan ini.
Banyak lapisan masyarakat mampu mengatakan, orang Jawa sudah meninggalkan bahasa ibu dan lebih mencintai bahasa asing. Namun, ia sendiri tak pernah bisa mengatasi masalah yang melatarbelakangi. Hal ini cukup memprihatinkan, karena sebenarnya penilaian itu lebih mudah diucapkan daripada memberikan solusi terbaik bagi kelestarian bahasa Jawa.
Simak juga artikel sebelumnya: Apa Beda Caos dan Paring?

Penulis adalah wartawan Kabarhandayani dan juga menjadi tenaga pendidik di SMA 1 Tanjungsari.  (foto: www.panjebarsemangat.co.id).

Komentar

Komentar