GUNUNGKIDUL, (KH),– Literasi tidak selalu berhenti pada aktivitas membaca buku. Di Gunungkidul, literasi coba dihadirkan dalam ruang yang lebih luas: tempat masyarakat belajar, berkarya, berbagi pengetahuan, mengembangkan keterampilan, hingga menampilkan kreativitas.
Gambaran itu terasa dalam Festival Literasi Gunungkidul 2026 yang berlangsung selama lima hari, 16–20 September 2026, di lingkungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispussip) Gunungkidul.
Festival tersebut menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat, pegiat literasi, komunitas, perpustakaan, hingga berbagai unsur lainnya. Tema yang diusung, “memBACA, menCIPTA, mengINSPIRASI”, menjadi benang merah berbagai kegiatan selama festival.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunungkidul, Oneng Windu Wardana, mengatakan kegiatan literasi perlu terus dikembangkan agar semakin mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Literasi meningkat, masa depan semakin baik. Menjalankan kegiatan seperti ini semakin baik lagi, bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, serta peningkatan kapasitas literasi,” ujar Oneng saat ditemui pada hari terakhir festival, Minggu (20/9/2026).
Menurut Oneng, misi utama perpustakaan adalah menghadirkan pembelajaran sepanjang hayat. Artinya, perpustakaan tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat dalam jangka pendek, tetapi menjadi bagian dari proses belajar yang berlangsung sepanjang kehidupan.
“Misi utama perpustakaan adalah pembelajaran sepanjang hayat, tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi pembelajaran sepanjang hayat seumur hidup,” katanya.
Karena itu, pengembangan perpustakaan membutuhkan kolaborasi. Masukan dari berbagai pihak menjadi bagian penting untuk memastikan layanan dan program perpustakaan terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.
Oneng melihat peningkatan kapasitas literasi juga memiliki hubungan dengan kesempatan masyarakat untuk mengembangkan kehidupan ekonominya.
“Kapasitas literasi yang lebih baik akan memberikan peluang untuk meraih peluang-peluang yang baru, baik dalam jenis usaha maupun pekerjaan,” tuturnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan konsep transformasi perpustakaan yang tidak menempatkan perpustakaan semata sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan masyarakat.
Dari Buku, Berlanjut Menjadi Keterampilan
Salah satu contoh yang disampaikan Oneng adalah kebutuhan masyarakat terhadap pelatihan keterampilan setelah mendapatkan pengetahuan dari bahan bacaan.
Ia mencontohkan keterampilan membatik. Masyarakat tidak hanya membaca mengenai suatu keterampilan, tetapi kemudian dapat mengikuti pelatihan untuk mempraktikkan pengetahuan tersebut.
“Masyarakat ingin pelatihan setelah membaca buku, misalnya membatik, kemudian dilaksanakan di Dispusip. Ini merupakan bentuk transformasi perpustakaan untuk meningkatkan kapasitas literasi,” jelasnya.
Konsep tersebut juga terlihat dalam rangkaian Festival Literasi Gunungkidul 2026.
Dalam salah satu agenda festival pada Kamis (17/9/2026), misalnya, pengunjung tidak hanya disuguhi pameran buku, tetapi juga pameran produk literasi di area basement. Di panggung, kegiatan diisi Talkshow Kopi Gunungkidul, kemudian dilanjutkan penampilan Tari Thiwul Gunungkidul, Tari Rampak Kenes dan Tari Angguk dari tim SPENSANGA SMPN 1 Ngawen, hingga penampilan sejumlah band pada sore hingga malam hari.
Pada saat yang sama, berlangsung pula Workshop SLiMS Bulian Angkatan I yang menunjukkan sisi lain literasi, yakni penguatan kapasitas pengelolaan perpustakaan.
Dengan format kegiatan yang beragam tersebut, festival mempertemukan literasi dengan seni, kreativitas, teknologi, produk masyarakat, serta pengembangan kapasitas pengelola perpustakaan.
Oneng mengatakan kolaborasi yang selama ini telah berjalan perlu terus dikembangkan. Menurutnya, dukungan berbagai pihak diperlukan untuk mengembangkan perpustakaan sekaligus meningkatkan kapasitas literasi masyarakat.
“Dukungan dan support dari kita semua untuk mengembangkan perpustakaan, meningkatkan kapasitas literasi,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi yang sudah terbangun tidak berhenti setelah festival berakhir.
Festival Literasi Gunungkidul sendiri tidak hanya berisi agenda panggung. Sejumlah kegiatan selama lima hari juga mencakup pameran, gelar wicara, penyerahan hadiah lomba, peluncuran buku, penampilan karya, dan pameran produk literasi.
Memasuki hari terakhir, Minggu (20/9/2026), rangkaian Festival Literasi Gunungkidul 2026 ditutup dengan berbagai agenda, termasuk pengumuman pemenang Lomba Photo Booth.
Tiga peserta ditetapkan sebagai pemenang. @ahmadi.bizron meraih Juara I, disusul @raa25_ sebagai Juara II dan @dzky_stryan sebagai Juara III.
Pengambilan hadiah dijadwalkan berlangsung di panggung Festival Literasi Gunungkidul pada pukul 13.00 WIB, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Closing Ceremony Festival Literasi Gunungkidul 2026.
Lomba tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat diberi ruang untuk menuangkan kreativitas dalam rangkaian festival.
Ke depan, ia berharap ada penyegaran sehingga program-program perpustakaan semakin berkembang dan mampu menjangkau kebutuhan masyarakat.
“Ke depan lebih baik lagi, ada penyegaran,” pungkasnya.





