GUNUNGKIDUL, (KH) — Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Planjan, Saptosari. Keputusan ini diambil sebagai langkah untuk menjamin keamanan pangan pasca terjadinya kasus keracunan makanan bergizi (MBG) yang menimpa ratusan siswa di wilayah Saptosari.
Komandan Kodim 0730 Gunungkidul, Letkol Inf Roni Hermawan, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima pemberitahuan resmi terkait penghentian sementara aktivitas SPPG Planjan. Menurutnya, langkah ini diambil sambil menunggu hasil investigasi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul dan tim dari BGN mengenai kasus keracunan tersebut.
“Kemarin sudah langsung dikeluarkan surat penghentian sementara, sambil menunggu hasil investigasi dan uji laboratorium yang dilakukan Dinas Kesehatan,” jelas Letkol Inf Roni Hermawan, Kamis (30/10/2025).
Roni menuturkan bahwa SPPG Planjan telah beroperasi sekitar satu hingga satu setengah bulan. Ia bersama jajaran Kapanewon Saptosari dan instansi terkait sempat melakukan pengawasan di lokasi SPPG yang terletak di pinggir Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) tersebut.
“Waktu itu ada beberapa catatan yang kami sampaikan. Lokasinya di pinggir jalan raya, di depan dan sampingnya ada lahan terbuka yang berdebu. Kami minta supaya area itu tidak dibuka agar debu tidak masuk. Selain itu, di lokasi juga banyak lalat, terutama lalat hijau yang bisa berdampak serius terhadap kebersihan makanan,” ungkapnya.
Langkah BGN Menjamin Keamanan Pangan
Penghentian sementara ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab BGN untuk memastikan keamanan pangan bagi siswa penerima program MBG. Selama masa penutupan, SPPG Planjan diharapkan dapat melakukan evaluasi menyeluruh, sambil menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dan air yang sedang diteliti.
“Kami selalu menekankan pentingnya kebersihan, terutama dalam pengolahan bahan pangan, peralatan, dan makanan yang akan disajikan,” tegas Roni.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Ismono, melaporkan bahwa hingga Kamis pagi, jumlah siswa yang dilarikan ke RSUD Saptosari terus bertambah. Para siswa tersebut mengeluhkan gejala seperti sakit perut, mual, dan muntah.
“Dari Rabu pagi sampai Kamis pagi, total pasien yang masuk IGD RSUD Saptosari mencapai 45 orang. Rinciannya, 40 pasien sudah pulang, 4 masih dalam observasi, dan 1 pasien dirawat inap,” kata Ismono.
Satu siswa yang dirawat sempat mengalami sesak napas, namun setelah mendapatkan penanganan medis berupa oksigen, infus, dan obat-obatan, kondisinya berangsur membaik. Adapun siswa yang menjalani rawat jalan umumnya mengalami gejala ringan seperti diare, mual, dan nyeri perut.
“Secara keseluruhan, kondisi para siswa sudah tertangani dan berangsur membaik. Hingga siang ini kami masih mendata jumlah pastinya. Kemarin ada 695 siswa yang terdampak, dan datanya terus kami perbarui sesuai laporan dari sekolah,” pungkas Ismono.





