20 Tahun Merantau, Kini Sarjono Berdayakan Ratusan Tetangga

oleh -
Sarjono dengan hasil karyanya. KH/ Kandar
kadhung tresno
Sarjono dengan hasil karyanya. KH/ Kandar

TANJUNGSARI, (KH)— Beberapa padukuhan di Desa Hargosari terdapat sentra penghasil kerajinan berbahan baku rotan, tambang kulit batang pisang, dan tambang pandan (seagrass). Berbagai produk yang dihasilkan cukup banyak dan beragam.

Setelah ditelisik, awal mula bagaimana wilayah ini menjadi sentra kerajinan ternyata tersimpan cerita yang cukup menarik. Pengrajin sekaligus pengepul hasil kerajinan, Sarjono (39) menuturkan, latar belakang kisah sentra kerajinan dimulai sekitar tahun 1970-an.

Saat itu, sulitnya lapangan kerja di daerah serta adanya keinginan untuk memperbaiki nasib, beberapa pemuda merantau ke daerah Solo. Di Solo, beberapa diantaranya bekerja pada sebuh industri kerajinan yang memproduksi mainan dan anyaman.

Setiap warga yang lebih dahulu merantau, dalam periode waktu tertentu selalu membawa atau mengajak pemuda dusun yang lain ikut merantau. Seiring perkembangan produk kerajinan dan pangsa pasar yang semakin membaik, pada kurun waktu antara tahun 1990-an hingga 2000-an terjadi urbanisasi pemuda asal Hargosari dalam jumlah besar.

“Ada Ratusan, banyak diantaranya lulusan SD dan SMP. Mereka bekerja di pusat-pusat pembuat dan pemasar kerajinan, demikian juga dengan saya. Saya merantau hampir 20-an tahun,” kenang Sarjono, beberapa waktu lalu.

Produk anyaman berupa aneka keranjang. KH/ Kandar

Sekitar 5-6 tahun lalu barulah ia memiliki ide untuk membawa pulang pekerjaan pembuatan produk kerajinan ke kediamannya, yakni di Padukuhan Candisari, Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari. Setelah produk selesai dalam jumlah tertentu ia lantas mengirimnya.

Sarjono mengaku banyak sisi positif yang diambil, salah satunya ia dapat bekerja di rumahnya sendiri. Setelah itu munculah niat memberdayakan warga di lingkungan sekitar. Ia menyisihkan waktu dan sedikit hasil bekerja untuk melatih tetangganya. Sebagian besar diantaranya ialah ibu rumah tangga yang tidak banyak memiliki kesibukan.

“Saat ini warga yang terlibat membuat kerajinan anyaman menyasar hingga ke 4 padukuhan, diantaranya Padukuhan Candisari, Timunsari, Mojosari, dan Pakel. Ada 130-an ibu rumah tangga yang bergabung,” urainya.

Lanjut Sarjono, produk yang dihasilkan cukup banyak, berupa aneka macam keranjang berbagai ukuran dan kegunaan. Sementara untuk produk kursi rotan berbagai model ia masih tangani sendiri. Produk-produk yang dikerjakan merupakan pesanan dari 5 toko atau perusahaan pemasar baik di wilayah Solo dan Yogyakarta.

Sarjono menambahkan, Bahan baku kerajinan biasanya disuplai dari perusahaan pemasar, tetapi ada kalanya Sarjono berbelanja sendiri. Ia akan mencari bahan baku ke pusat penyedia untuk melayani permintaan produk di daerah lokal.

“Produk kreasi kami sebagian di ekspor. Biasanya pengambilan produk dilakukan setiap dua hari sekali. Hampir semua jenis produk kerajinan anyaman rotan saya bisa membuat, sesuai apa permintaannya saja,” kata Sarjono lagi.

Atas upaya Sarjono tersebut diakui sedikit banyak telah membantu pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga mereka yang tergabung sebagai pengrajin. seperti yang disampaikan Riyanti, asal Padukuhan Timunsari, ia mengaku mendapat tambahan penghasilan.

“Bersyukur meski sedikit ada pemasukan tambahan sembari mengisi waktu disela-sela bertani,” ujarnya. (Kandar)

Komentar

Komentar