Ruwat Bumi, Padukuhan Namberan Gelar Wayang di Siang Bolong

Ruwatan Bumi Padukuhan Namberan Desa Karangasem Paliyan. KH/Kandar.
Ruwatan Bumi Padukuhan Namberan Desa Karangasem Paliyan. KH/Kandar.

PALIYAN, (KH)— Tidak seperti pagelaran wayang kulit pada umumnya yang dilaksanakan pada malam hari, pertunjukan wayang kulit saat siang hari memang tidak lazim, namun hal ini sengaja diadakan oleh masyarakat Padukuhan Namberan Desa Karangasem Paliyan sebagai ragkaian Ruwat Bumi Padukuhan.

“Menjadi bagian ruwatan, pada hari yang sama akan ditanam cikal (tunas kelapa) di empat penjuru padukuhan,” jelas Sumarwanto, Dukuh Namberan, Rabu, (29/4/2015).

Prosesi pagelaran wayang, lanjutnya, durasinya sama dengan wayang pada umumnya, namun terdapat beberapa ritual tambahan karena memang pagelaran tersebut memiliki tujuan khusus. Sebagai pelengkap juga terdapat berbagai sesaji, di sekitar kelir ada ingkung ayam, burung, dan juga bebek. Ada juga berbagai alat pertanian seperti sabit, cangkul, gathul, dan luku (bajak).

Dijelaskan lebih lanjut, pengiring musik gamelan yang dipakai wiyaga dalam pertunjukan yang dilaksanakan di balai padukuhan setempat juga berbeda, hanya menggunakan gamelan slendro saja atau satu pangkon.

Ritual Ruwatan Bumi seperti sekarang ini rentang waktu pelaksanaannya tidak pasti, selang waktu dengan pelaksanaan selanjutnya bisa mencapai 20 tahun kemudian, bahkan lebih.

“Menurut dalang yang melakukan pertunjukan, Ki Cermo Joyo (Simun), ruwatan akan dilaksanakan lagi ketika tunas kelapa yang ditanam telah tumbuh lalu dimanfaatkan, kemudian setelah tidak lagi berbuah atau pohon kelapa hampir mati, baru direncanakan ritual serupa,” papar Sumarwanto.

Ia menambahkan, makna dan tujuan ritual untuk membersihkan sukerta (kotoran) dalam arti luas. Kemudian dilanjutkan permohohan kepada Yang Maha Kuasa dengan harapan wilayah Namberan khususnya selalu dalam kondisi aman, tenteram, gemah ripah, dan murah rezeki.

Dengan jumlah penonton yang tidak begitu banyak, tepat pada pukul 10.00 WIB pertunjukan wayang dimulai dan selesai sekitar pukul 16.00 WIB sore. Ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar saat berlangsungnya pagelaran wayang, seperti tidak diperbolehkannya ibu hamil menyaksikan pertunjukan, bagi penonton yang datang tidak boleh tidur serta memanjat pohon atau menaiki apapun di sekitar pagelaran.

“Kebetulan pelaksanaan dibarengkan dengan acara bersih dusun atau rasulan,” pungkas Sumarwanto. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar