“Hasilnya cukup memuaskan, makanya kami berharap pemerintah menghentikan import,” tandasnya.
Menurutnya, petani lokal memiliki panenan jagung yang melimpah sehingga tidak ada alasan mendasar import dilakukan. Dengan tidak dilakukannya impot kestabilan harga dapat terjaga.
“Saat ini berkisar Rp. 5.000 per kilogram. Meski berisiko turun saya harap tak terlalu jauh,” harap Sumari.
Disebutkan, khusus di kawasan Desa Bleberan luas tanaman jagung mencapai 748 hektar. Sementara untuk yang siap dipanen dalam waktu dekat ini sekitar 300 hektar.
Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Tanaman Pangan Kementan RI, Dr. Ir. Gatot Irianto, MS, DAA mengklaim Kementan telah melakukan langkah agar harga tetap stabil. Dirinya mengungkapkan harga jagung selama ini selalu tetap dan tidak merosot.
“Menjaga harga dengan mengendalikan import, yang ke dua yakni dengan menjaga pertanaman sepanjang tahun,” terang Gatot.
Sebab, sambungnya, penanaman jagung sepanjang tahun untuk memastikan pasokan tetap tersedia. Sementara yang ketiga, harga dijaga dengan melakukan efisiensi. Sehingga harganya tetap kompetitif meski ada jagug dari luar.
Pihaknya menyambut baik jajaran pemerintah daerah yang mengupayakan peningkatan produktivitas jagung. Agar lebih maksimal Gatot menghimbau di lahan-lahan yang subur saat musim hujan seperti saat ini supaya ditanami jagung.
Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Badingah menyebut jagung menjadi komoditas utama di Gunungkidul. Menurutnya, panen kali ini dinilai sangat membanggakan.
“Mudah-mudahan harga tidak anjlok sehingga menunjang kesejahteraan masyarakat petani,” tukas Badingah. (Kandar)