Waspadai Beberapa Penyakit di Musim Hujan

oleh -
kadhung tresno

WONOSARI, (KH) — Bukan hanya flu, diare, dan demam berdarah (DBD) yang menjadi penyakit langganan saat musim hujan. Beberapa penyakit lain harus diwaspadai yaitu seperti, Leptospirosis, Cikungunya, dan Kutu air.

 

Kabid Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sumitro mengungkapkan, leptospirosis  disebabkan oleh bakteri Leptospira Sp yang dibawa oleh kencing tikus, karenanya penyakitnya dikenal sebagai penyakit kencing tikus.

 

“Genangan air hujan membuat lingkungan becek, berlumpur, dan kotor. Keadaan demikian bisa menjadi media bagi bakteri lepstospira yang ada dalam air kencing tikus maupun individu. Dengan demikian, penyakit ini kemudian menulari orang lain.”, katanya, Jumat (14/11/2014).

 

Bakteri lepstospira Sp bisa masuk melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata, dan hidung. Gejala yang ditimbulkan seperti gejala terkena flu, yaitu nyeri tenggorokan, batuk dan sakit kepala. Kulit dan mukosa menjadi berwarna kuning, nyeri pada otot betis, sampai gangguan yang lebih berat lagi pada hati, paru-paru, ginjal, dan timbul perdarahan.

 

Untuk penyakit Cikungunya, ia menjelaskan jika penyakit tersebut tidak hanya menyerang mereka yang tinggal di dekat hutan atau pepohonan rindang. “Penyakit juga datang setiap musim hujan yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.”, jelasnya.

 

Gejala yang timbul seperti demam mendadak, nyeri sendi, khususnya sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang dan muncul ruam pada kulit. “Demam sering disalah artikan sebagai demam berdarah dengue dan campak. Nyeri sendi menjadi gejala yang paling membedakan. Tindakan pertama diberi obat anti nyeri dan penurun panas, tapi jika dalam 2-3 hari belum membaik, segera berobat ke dokter.”, imbuhnya.

 

Lebih lanjut ia memaparkan, penyakit kulit umumnya adalah kutu air yang sering menyerang saat musim hujan tiba. Tentu sangat menganggu aktvitas sehari-hari. Biasanya menyerang sela-sela jari kaki yang ditandai dengan pengelupasan atau kerusakan. Ditambah rasa nyeri, gatal, berbau, juga panas seperti terbakar. “Penyakit ini disebabkan oleh infeksi jamur seperti jenis Trycophyton yang memang banyak hidup di lingkungan yang lembap dan basah.”, paparnya.

 

Selain lingkungan yang lembab, pakaian tidak atau belum benar-benar kering bisa menjadi “rumah” yang hangat bagi jamur untuk berkembang subur. Akhirnya jamur kontak dengan kulit manusia. Untuk tindakan pertama, gunakan salep yang mengandung anti jamur miconazole, clotrimazole, atau cetoconazol. Keluhan umumnya akan hilang dalam waktu 3-5 hari, namun untuk penyembuhan total sebaiknya tetap gunakan obat 1-2 minggu untuk mencegah infeksi jamur tidak datang lagi. “Sebaliknya jika kulit tidak kunjung membaik, bengkak, kemerahan, bahkan berdarah, segera berobat ke dokter untuk pengobatan lebih lanjut.”, pungkasnya.(Atmaja/Tty)

Komentar

Komentar