Warga Grogol Unjuk Rasa Tolak Pembangunan Gedung Klasis GKJ

oleh -
Warga Grogol melakukan aksi penolakan pembangunan kantor Klasis. KH/Kandar
kadhung tresno
Warga Grogol melakukan aksi penolakan pembangunan kantor Klasis. KH/Kandar
Sebagian warga Dusun Grogol unjuk rasa menolak pembangunan kantor Klasis GKJ. KH/Kandar

KARANGMOJO, (KH)— Mengatasnamakan warga muslim Grogol Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo, sekelompok anggota masyarakat melakukan aksi unjuk rasa menolak pendirian bangunan Kantor Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ) di wilayah dusun setempat, Sabtu, (17/9/2016).

Ratusan warga bergerak berjalan kaki menuju calon lokasi Kantor Klasis GKJ berangkat dari salah satu Mushola di Padukuhan Grogol 1 dengan membentangkan satu poster besar dan puluhan poster kecil lainnya yang berisi aneka tulisan ungkapan penolakan.

Salah satu tokoh dalam aksi, Suwargito, mengungkapkan, beberapa alasan mendasar atas penolakan tersebut di antaranya bahwa masyarakat di Padukuhan Grogol 1 sebanyak 99,9 persen adalah kaum muslim, selain itu panitia pembangunan gedung Klasis sejak awal tidak mengadakan sosialisasi kepada masyarakat terkait rencana tersebut.

Terkait dengan perijinan pembangunan, berdasar penulusuran yang ia lakukan, pihaknya mengklaim bahwa tanda tangan persetujuan warga sekitar lokasi calon bangunan hanya sebatas kesepakatan penentuan batas-batas tanah saja.

“Tanda tangan warga sekitar sebatas syarat pembuatan sertifikat tanah saja, lagi pula mereka-mereka yang tanda tangan adalah warga kami yang sudah sepuh,” ujar Suwargito.

Lanjut dia, tindak lanjut rencana pemanfaatan tanah yang jelas-jelas melibatkan umat GKJ se-Gunungkidul dianggap tanpa ada pemberitahuan kepada dirinya selaku seksi keamanan dusun, begitu juga kepada tokoh masyarakat yang lain.

“Bahkan selaku dukuh tiba-tiba mendapat undangan peletakan batu pertama, hal ini jelas tanpa etika,” imbuh Sunyoto tokoh warga yang lain. Adanya musyawarah yang sempat berlangsung beberapa hari yang lalu di Kantor Kecamatan Karangmojo dengan melibatkan perwakilan masyarakat bersama pengurus Klasis GKJ Gunukidul juga diklaim belum ada kejelasan respon.

“Setelah pertemuan itu pihak kecamatan dan pemerintah desa meminta kepada pengurus atau panitia pembangunan untuk memberikan pernyataan setelah adanya penolakan warga, tetapi hingga hari ini belum juga ada keterangan,” papar Sunyoto.

Ia menganggap tidak adanya kata “permisi” dari pengurus Klasis kepada masyarakat dengan adanya rencana pembangunan itu, merupakan tindakan meremehkan, sehingga kemudian warga tersinggung.

Dimintai keterangan terkait adanya aksi warga ini, Kades Bejiharjo, Yanto tidak berkomentar banyak, ia mengaku sudah berusaha memfasilitasi kedua belah pihak agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kami berupaya apa adanya, tahu sendiri itu keinginan masyarakat, saya pun tahu ada aksi ini mendadak, saya kaget juga,” kata dia sebelum hadir di lokasi aksi warga.

Ditanya mengenai langkah solusi, ia tidak dapat secara rinci menyebutkan, hanya saja ia berharap penuh agar perselisihan segera selesai apaun hasilnya. “Pembangunan itu mau dilanjutkan apa tidak, pihak Gereja atau yang bersangkutan belum menyampaikan kepada kami,” kata dia.

Sementara itu Camat Karangmojo, Supadma, SSos memberikan pernyataan tidak jauh berbeda dengan Kades Bejiharjo. Atas nama Muspika pihaknya mengaku telah memfasilitasi mediasi antara pihak pengurus Klasis dengan perwakilan masyarakat Rabu, (14/9/2016) lalu.

“Sudah kami pertemukan kedua belah pihak, jawaban sementara, pihak Klasis akan membahasnya dengan 13 gereja GKJ yang ada di Gunungkidul, dari hasil pembahasan itu akan disampaikan kepada kami, tetapi memang hingga saat ini belum ada, apakah lanjut atau tidak, mengenai aksi itu haknya warga,” urai dia.

Berdasar informasi dari beberapa sumber yang dihimpun KH, pihak pengurus Klasis GKJ Gunungkidul pada hari ini mengadakan musyawarah dengan poin pembahasan rencana pendirian Kantor Klasis di Jalan Ring Road Utara Wonosari yang masuk wilayah Desa Bejiharjo. (Kandar)

Komentar

Komentar