Usaha Penggilingan Sampah Berdayakan Penganggur

oleh -
kadhung tresno

PATUK, kabarhandayani.– Sampah plastik merupakan sampah yang sulit diurai oleh alam bahkan hingga berpuluh-puluh tahun. Pemusnahan sampah plastik pun seringkali menjadi masalah karena jika dibakarpun akan menimbulkan polusi. Namun plastik yang seringkali dianggap mengotori lingkungan ini ternyata mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi Sagiman (41). Warga Padukuhan Gemawang, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, Ia mengolah sampah plastik dengan cara digiling.

Pria yang sempat merantau di Jakarta selama 20 tahun ini memulai usahanya sejak tahun 2006. Berawal dari minimnya lapangan kerja di Gunungkidul ia pun berinisatif untuk mengolah sampah plastik. Keinginannya untuk mandiri pun muncul setelah melihat kondisi lingkungan dengan banyaknya limbah plastik yang berserakan.

“Sudah lama bekerja menjadi buruh dan tidak ada perkembangan. Sedangkan saya tidak punya ketrampilan sama sekali. Jadi ya mengumpulkan limbah dan saya olah seperti ini,” ungkapnya ketika ditemui di lokasi penggilingan sampah pada Selasa (2/7/2014).

Usaha pria lulusan SMP ini dimulai dari bawah dengan cara mengumpulkan sampah sendiri dan diolah sendiri. Namun siapa sangka, selama kurun waktu 8 tahun, usahanya ini mampu menyerap tenaga kerja yang para pekerjanya adalah warga di sekitarnya yang tidak mempunyai pekerjaan. Sampai saat ini, ada sekitar 50 pekerja yang mayoritas sebagai pekerja borongan. Sampah yang ia olah pun dibeli dari para pengepul baik dari Gunungkidul, Jogja hingga Klaten dan Jawa Tengah.

Sagiman menuturkan, setiap hari gilingan sampahnya ini mampu menggiling sekitar 4 kwintal limbah plastik. Plastik dipilah berdasarkan jenisnya kemudian digiling, dicuci dan dijemur lalu dikemas. Namun usahanya ini bukan tanpa kendala, proses penggilingan ini membutuhkan proses penjemuran yang harus benar-benar kering. Oleh karena itu, jika musim hujan akan menjadi hambatan dalam proses penjemurannya. Namun kendala itu mampu diatas dengan cara dikumpulkan dulu dan baru dijemur ketika matahari sudah terik.

Sagiman menjelaskan, hasil penggilingan ini dikirim ke Jakarta dan Surabaya untuk diproses dan di daur ulang. Hasil gilingannya ini dijual dengan harga Rp 3.000,00 hingga Rp 15.000,00 per kilo tergantung jenis bahannya. Dari usaha ini, Sagiman mampu menghasilkan 14 ton gilingan plastik dan mampu mengantongi omset sekitar 90 juta per bulan.

“Sangat bersyukur, yang dulunya tidak punya apa-apa, sekarang bisa mengajak para warga untuk membantu saya bekerja,” ungkapnya. (Mutiya/Hfs)

Komentar

Komentar