Teror Hewan Misterius di Gunungkidul! 6 Kambing Mati Mengenaskan dalam Sepekan

Kondisi kambing milik warga yang mati dengan luka mengenaskan. (ist)

GUNUNGKIDUL, KH – Warga Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari, Gunungkidul, tengah dilanda keresahan. Dalam waktu kurang dari satu minggu, enam ekor kambing ditemukan mati dengan luka mengenaskan. Diduga kuat, hewan ternak tersebut menjadi korban serangan hewan liar atau misterius yang keluar dari habitatnya.

Lurah Kalurahan Giripurwo, Supriyadi, membenarkan kejadian ini. Menurutnya, sejak sepekan terakhir, warga mulai melaporkan kematian kambing peliharaan mereka dengan kondisi yang tidak wajar—terdapat luka-luka parah seperti bekas gigitan atau cakaran.

Bacaan Lainnya

“Benar, ada enam kambing yang mati dan satu ekor lainnya luka-luka. Diduga diserang hewan liar, mungkin anjing liar,” ujar Supriyadi saat dikonfirmasi, Selasa (2/9/2025).

Kronologi kejadian menunjukkan bahwa satu ekor kambing pertama kali ditemukan dalam kondisi terluka pada Jumat, 29 Agustus 2025. Keesokan harinya, dua kambing mati dengan luka serupa. Lalu pada hari Senin, dilaporkan empat kambing lainnya ditemukan mati dalam kondisi mengenaskan. Total ada tujuh kambing yang menjadi korban—enam di antaranya mati, sementara satu kambing lainnya masih hidup meski mengalami luka serius.

Menurut Supriyadi, kambing-kambing tersebut umumnya dikandangkan di ladang atau lokasi yang cukup jauh dari pemukiman warga, sekitar 200 meter dari rumah. Kondisi ini diduga memudahkan hewan liar untuk menyerang tanpa terdeteksi.

“Memang belum bisa dipastikan hewan jenis apa yang menyerang. Tapi ada warga yang sempat melihat sosok seperti anjing besar,” tambah Supriyadi.

Pemerintah Kalurahan telah berkoordinasi dengan Puskeswan Panggang, dan petugas sudah turun ke lokasi. Dalam waktu dekat, para ketua RT akan dikumpulkan untuk membahas penggunaan kandang yang lebih aman. Supriyadi juga menghimbau warga untuk memindahkan ternak mereka ke dekat rumah, setidaknya sampai situasi dinyatakan aman.

“Kami minta sementara kandang tidak terlalu jauh dari rumah. Ini penting untuk mencegah kerugian lebih lanjut,” tegasnya.

Supriyadi menyebut, serangan hewan liar semacam ini biasanya terjadi setiap dua tahun sekali di wilayah Purwosari. Oleh karena itu, warga diminta tetap waspada, terutama saat musim kemarau seperti sekarang.

Sementara itu, Lurah Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Sagiyanto, juga mengungkap bahwa wilayahnya kerap mengalami kejadian serupa. Menurutnya, saat musim kemarau, serangan dari hewan liar atau misterius memang sering terjadi.

“Saat kemarau, teror hewan misterius ini sering terjadi. Tahun lalu masih ada kasus serangan hewan buas, meski untuk tahun ini sampai Agustus belum ada laporan. Semoga tidak terjadi lagi,” ujar Sagiyanto.

Beberapa langkah antisipatif yang disarankan antara lain memperkuat kandang ternak agar tidak mudah dimasuki hewan liar, mengawasi hewan peliharaan seperti anjing agar tidak dilepasliarkan, serta menempatkan ternak lebih dekat ke rumah agar lebih mudah diawasi.

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai jenis hewan yang bertanggung jawab atas serangkaian serangan tersebut. Apakah benar anjing liar, atau ada hewan lain yang selama ini tak terdeteksi?

Warga berharap pemerintah segera menemukan solusi konkret agar teror ini tidak terus merugikan mereka.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait