Suradi, Lehernya Harus Dilubangi agar Lega Bernafas

oleh -
Suradi, warga Mojosari Playen. Foto: Sarwo.
iklan dispar
Suradi, warga Mojosari Playen. Foto: Sarwo.
Suradi, warga Mojosari Playen. Foto: Sarwo.

PLAYEN,(KH),– Penyakit itu bisa datangnya tiba-tiba. Suara Suradi (51), seorang tukang batu, warga dusun Mojosari Desa Playen Kecamatan Playen perlahan-lahan menghilang tidak bisa mengeluarkan suara. Hanya bibir saja yang digerakkan untuk komunikasi dengan Sadikem (48) istrinya.

“Saya kaget, suami saya tiba-tiba tidak bisa bicara, mau bernafas sulit,” kata Sadikem kepada KH di rumahnya Minggu (07/12/14).

Sudah setahun lebih suaminya tak bisa bicara. Awalnya, bulan Februari lalu, Sadikun pulang kerja dari menukang suaranya sudah kresek-kresek, tidak jelas, bahkan malam harinya sudah tak bisa bicara.

Langsung pagi harinya dibawa ke RSUD Dr Sardjito Yogyakarta. Ternyata setelah diperiksa pada leher kanan ada benjolannya, yang kemudian mendesak ke pita suara. Akibatnya ia tak bisa bicara.

Langkah pertama untuk memudahkan pernafasan, terpaksa leher bagian depan diberi lubang. Langkah berikutnya harus operasi menghilangkan benjolan, tetapi Suradi tidak mau dioperasi. Akhirnya benjolan tersebut dikemoterapi.

“Alhamdulillah dikemo 3 kali, benjolan tersebut dapat kempes dan sedikit-sedikit Suradi dapat bicara pelan suara tidak keras,” ujar istrinya.

Sadikem menuturkan, sampai sekarang suaminya masih harus kontrol ke RSUD Dr Sarjito Yogyakarta seminggu sekali. “Ya, masih harus mengeluarkan uang banyak, untuk carter mobil Playen – Yogyakarta,” tuturnya.

Sementara itu, sebagaimana dituturkan Sadikem, harta benda mereka sudah berangsur menipis dijual untuk berobat. Suradi dan istrinya memang membutuhkan uluran  tangan, agar bisa kontrol berobat ke rumah sakit di Yogyakarta seminggu sekali. (Sarwo/Jjw).

Komentar

Komentar