
PLAYEN, (KH)— Siswa Taman Kanak-Kanak (TK) Negeri 1 Maret bersama para guru menggelar doa bersama dalam memperingati peristiwa bersejarah Serangan Umum 1 Maret bertempat di Monumen Radio Auri PC 2, Banaran, Playen, Gunungkidul, Sabtu (28/2/2015).
Kepala Sekolah TK Negeri 1 Maret Sumarni memberikan pemahaman kepada seluruh siswa untuk merenungkan kembali perjuangan pendahulu yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Doa bersama ini diikuti oleh 126 siswa kelas A dan B. Dengan pendampingan para guru, siswa berdiri memutari musium untuk melaksanakan doa bersama. Mereka tampak antusias mengikuti acara. Beberapa siswa tampak menangis saat guru membacakan doa untuk para pahlawan.
“Melalui Pemancar Radio AURI PC 2 ini, para pejuang dapat menyiarkan berita kepada dunia internasional tentang Serangan Umum 1 Maret. Kejadian tersebut berlangsung pada 1 Maret 1949,” kata Sumarni memberikan penjelasan kepada anak didiknya.
Dia mengatakan, peringatan Serangan Umum 1 Maret ini tidak dilaksanakan lewat kegiatan besar. Namun pihaknya lebih memilih mengajak para siswa menggelar doa dan renungan bersama di komplek Stasiun Radio Auri PC 2.
“Lewat doa bersama di museum ini kami ingin memberikan apresiasi kepada para pejuang. Sejarah mencatat di tempat inilah pertama kali kabar tentang Serangan Umum 1 Maret dapat dikabarkan kepada dunia,” paparnya.
Dikatakan Sumarni, untuk menumbuhkan rasa nasionalisme siswa, dalam proses belajar mengajar diselipkan juga pendidikan karakter anak. Di dalam pendidikan karakter tersebut diberikan tentang pendidikan cinta bangsa dan negara. Dengan pendidikan tersebut diharapkan rasa nasionalisme anak akan tumbuh.
Seusai doa bersama, siswa didampingi para guru melihat lebih dekat bangunan rumah yang awalnya digunakan untuk menyiarkan berita ke seluruh dunia tersebut. Bangunan yang mulai difungsikan pada Desember tahun 1948 ini nampak terawat sebab usai mendapat renovasi.
Sementara, juru rawat Monumen Radio Auri PC 2 Sumarno mengatakan, seperangkat pemancar radio yang dulu digunakan oleh para pejuang kini sudah dipindah ke musium Jogja Kembali. “Disini tinggal monumennya, seperangkatnya sudah dibawa ke Monjali,” terangnya.
Ia mengisahkan, Stasiun Radio AURI PC 2 menempati rumah milik keluarga Prawirosetomo. Kala itu, lanjut Sumarno, untuk mengelabuhi musuh antena pemancar yang digunakan untuk siaran dipasang setiap malam hari dan diturunkan pada pagi hari. Antena tersebut direntangkan pada dua pohon kelapa yang berdiri di komplek monumen. Dari stasiun tersebut dipancarkan berita Serangan Umum 1 Maret. 1949 ke seluruh penjuru dunia. (Juju).
“Sudah tidak ada pohon kelapanya, dulu didepan rumah ini. Dulu tempat ini masih banyak ditumbuhi ilalang. Sehingga dapat digunakan untuk mengelabuhi musuh,”ulasnya. (Juju)





