Peer Counselor: Cegah Self Harm di Kalangan Pelajar SMP Gunungkidul

oleh -
oleh
Self harm
Kelapa UPT Puskesmas Saptosari, dr. Ari Hermawan. (KH/ Kandar)
iklan dprd

GUNUNGKIDUL, (KH),– Peer Counselor menjadi metode yang dipilih guna menekan risiko terjadinya self harm di kalangan pelajar di Kapanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul. Demikian dikatakan Kepala UPT Puskesmas Saptosari, dr. Ari Hermawan saat ditemui di kantornya, Kamis (7/3/2024).

Sebagaimana diketahui, ada perilaku berbahaya yang berkaitan dengan kesehatan mental di kalangan pelajar SMPN 2 Saptosari. Sejak November 2023 jumlah anak yang melakukan tindakan self harm yakni perilaku menyakiti diri sendiri mencapai puluhan.

Data yang dikumpulkan puskesmas perilaku yang umumnya disebabkan ketidakmampuan meluapkan emosi ini akumulasinya ada 23 anak. Adapun 17 diantaranya melakukan tindakan menyayat lengan sendiri.

“Kami temukan setelah melakukan skrening kesehatan yang dilakukan pada September tahun 2023 lalu,” tuturnya.

iklan golkar idul fitri 2024

Berdasar keterangan petugas medis Puskesmas Saptosari yang menangani kesehatan jiwa, faktor yang menjadi latar belakangnya cukup beragam. Akan tetapi yang dominan karena persoalan di lingkungan keluarga siswa. Spesifiknya, yakni minimnya perhatian orang tua terhadap siswa.

Siswa yang melakukan tindakan berbahaya, yakni menyayat tangan, saat ditanya tak bisa memberikan alasan yang jelas. Mereka sebatas mengaku puas setelah melakukannya. Tindakan itu pun kerap menimbulkan luka hingga berdarah.

Berhubung RS Bethesda memiliki program kesehatan yang akan dijalankan di Saptosari, pihak puskesmas lantas menjalin kerjasama dan menyelenggarakan program penanganan persoalan kesehatan jiwa dan kesehatan secara umum di SMPN 2 Saptosari.

Peer Conselour Digagas Menjadi Metode Penanggulangan Self Harm

Salah satu wujud program kerjasama tersebut diantaranya membentuk konselor sebaya atau peer counselor. Nanti, siswa dari sekolah tersebut yang diseleksi akan memberikan layanan konseling terhadap siswa lain.

Peer counselor adalah pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang non professional kepada orang sebayanya,” terang dr. Ari.

Dia menjelaskan, ada 10 anak hasil seleksi yang akan memberikan layanan konseling. Terdiri dari 5 siswa perempuan dan 5 pelajar putri.

Saat ini, 10 anak tersebut tengah dilatih dengan materi seputar kesehatan jiwa, menyangkut gejala, ciri-ciri dan antisipasinya. Pemberi materi merupakan dokter jiwa yang berasal dari RS Bethesda dibantu petugas Puskesmas Saptosari.

Bahkan, penerima materi eduksi diantaranya merupakan guru BK dan tenaga pendidik yang lain.

“Fenomena persoalan kesehatan jiwa di lingkungan pelajar ini sebetulnya fenomena ‘gunung es’. Jika ditelusur sangat mungkin terjadi di sekolah-sekolah lain,” ugkapnya.

Peer Counselor Menjadi Metode yang Efektif Cegah Self Harm

Peer counsellor dipilih karena menjawab beberapa tantangan. Diantaranya karena ketersediaan petugas medis bidang kesehatan jiwa, baik psikiater atau psikolog. Selain itu, cara ini juga dinilai efektif, sebab, siswa dengan gangguan mental dan emosional harapannya lebih nyaman ketika melakukan konseling ke temannya.

Meskipun begitu, manakala membutuhkan tindaklanjut, pelajar akan dirujuk untuk mengakses layanan di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan kesehatan jiwa.

Sejauh ini, selain karena alasan lingkungan keluarga, ditemukan pula perilaku menyakiti diri yang disebabkan karena ikut-ikutan teman atau tren di media sosial.

Kepala SMPN 2 Saptosari, Sukamti terkesan menolak memberi keterangan. Dia menyebutkan, situasi di sekolahannya saat ini aman dan terkendali. Dia menyatakan, persoalan yang pernah terjadi di institusi pendidikan yang dia pimpin itu pun merupakan peristiwa lampau dan tak terjadi lagi saat ini.

“Saat ini sudah tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja. Peristiwanya sudah lama dan sekarang kami telah menjalankan program bersama Puskesmas serta RS Bethesda. Tidak hanya untuk perkara itu, namun kesehatan yang lain juga,” tandasnya.

Berulang kali ia mengklaim bahwa perilaku self harm pada siswa yang terjadi tahun lalu telah tertangani dengan baik dan tidak terjadi lagi belakangan ini. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar