Rumah Bibit Resan, Upaya Komunitas Resan Demi Konservasi di Gunungkidul

oleh -
Rumah Bibit Resan (RBR) di Seneng, Siraman, Wonosari. RBR ke 4 milik Komunitas Resan. (KH/ Edi Padmo)

GUNUNGKIDUL,(KH),– Pohon besar yang sering tumbuh di dekat sumber air oleh masyarakat Gunungkidul sering disebut sebagai pohon Resan. Jenis pohon Resan macam-macam. Ada Beringin, Gayam, Jambu Klampok, Preh, Trembesi, Klumpit dan lain lain. Arti kata Resan sendiri berasal dari bahasa Jawa, “Reksa” atau “Pangreksa” yang jika diartikan menjadi kata jaga, atau penjaga. Keberadaan pohon Resan ini secara fungsi alaminya memang berperan menjaga lestarinya sebuah sumber mata air.

Idiom kata Resan inilah yang digunakan oleh sekelompok relawan peduli air di Gunungkidul yang menamakan dirinya Komunitas Resan Gunungkidul. Dalam dua tahun terakhir ini mereka aktif menanam pohon di berbagai wilayah Gunungkidul. Penanaman mereka lakukan di musim penghujan, untuk menjamin tanaman mendapat suplai air hujan di alam, sehingga prosentase tanaman untuk hidup mandiri bisa lebih terjamin, tanpa harus dibutuhkan penyiraman.

Ketika musim Kemarau tiba, kegiatan dari Komunitas Resan Gunungkidul diantaranya menggali dan membersihkan sumber sumber air atau mata air yang tertutup. Mereka juga membuat pembibitan calon Resan yang akan ditanam untuk musim hujan mendatang. Kebun bibit tersebut mereka namakan sebagai Rumah Bibit Resan (RBR).

Seperti yang mereka lakukan pada Kamis (29/4/2021) kemarin. Bertempat di rumah Mahmudi (62), warga Padukuhan Seneng, Kalurahan Siraman, Kapanewon Wonosari, anggota Komunitas Resan Gunungkidul tampak sedang sibuk menyemai bibit-bibit pohon ke dalam Polybag.

“Ini adalah Rumah Bibit Resan yang ke empat, yang kami buat, yang pertama di Kedungpoh Lor, Kepek Banyusoca, Tanjung Bleberan, dan di Padukuhan Seneng ini,” ujar Tri Marsudi, salah satu tetua dari Komunitas Resan Gunungkidul.

Di kesempatan itu, ada sekitar 20 an anggota Komunitas Resan yang ikut hadir. Menurut Tri Marsudi, gerakan Komunitas Resan Gunungkidul adalah gerakan konservasi berbasis komunitas. Dalam arti gerakan penanaman di lokasi tiap daerah harus melibatkan komunitas konservasi lokal.

“Saat ini sudah ada 28 komunitas lokal di berbagai wilayah Gunungkidul yang sudah memulai gerakan penanaman,” lanjut Tri Marsudi.

Menurut keterangan mereka, dari 28 komunitas yang terlibat, mereka masing-masing mempunyai program dan tujuan sendiri mengenai pengembangan wilayahnya.

Seperti yang diungkapkan oleh Joyo (21), anggota Komunitas Resan yang berasal dari kelompok wisata Prambutan Indah, Padukuhan Kedungwanglu, Kalurahan Banyusoca, Kapanewon Playen. Mahasiswa semester akhir disebuah Perguruan tinggi di Gunungkidul ini menyatakan tujuannya bergabung dengan Komunitas Resan Gunungkidul karena ingin memulai gerakan konservasi di dusun asalnya.

“Padukuhan saya dulu terkenal sebagai sumber air, karena dusun kami diapit oleh dua sungai besar, tapi seiring dengan rusaknya alam, akhir-akhir ini banyak sumber air yang mati, dan masyarakat kesulitan mengakses air bersih,” ujar Joyo.

Joyo dan teman-temannya yang tergabung di Pokdarwis Prambutan Indah juga risau, karena paket wisata yang coba mereka jual adalah River Tubing, sementara sungai yang mereka gunakan, di musim kemarau debit airnya menurun drastis.

Hal senada juga diungkapkan oleh Anjar (22), pemuda berambut gondrong yang mempunyai basic pecinta alam ini bergabung dengan Komunitas Resan juga dalam rangka memperbaiki lingkungan khususnya air di desa asalnya, Kalurahan Kepek, Kapanewon Playen.

“Sumber air di tempat kami juga rata-rata sudah mati, karena keberadaan PAM, masyarakat cenderung acuh terhadap sumber air, padahal jika sumber air ini hidup bisa digunakan untuk usaha pertanian,” terang Anjar.

Anjar dan beberapa temannya saat ini juga bekerjasama dengan pihak kehutanan untuk mengembangkan wisata “Madu Bronto”.

“Ada program kedepan untuk mengembangkan wisata Madu Bronto menjadi kawasan hutan edukasi, dimana akan dibangun embung dan 3 hektar kawasan hutan Ikonik. Pada kawasan itu di samping berfungsi sebagai daerah tangkapan air hujan, juga akan ditanam berbagai jenis pohon langka yang ada di Gunungkidul,” lanjut Anjar tampak bersemangat.

Eko Sujatmo (37), salah satu tetua Komunitas Resan Gunungkidul yang berasal dari Komunitas Sumilir Gunung Gambar, menyatakan bahwa keberadaan Rumah Bibit Resan tersebut menjadi salah satu upaya agar ke depan, gerakan penanaman pohon di Gunungkidul bisa terus berlanjut.

“Dalam dua kali musim tanam kemarin, kita telah menanam 9.820 pohon di berbagai wilayah Gunungkidul. Bibit itu selain dari hasil pembibitan sendiri, sebagian besar kami peroleh dari donatur pohon, baik dari jaringan komunitas konservasi, pribadi, maupun dari Dinas Lingkungan Hidup,” terang Eko.

Menurut Eko, luasan wilayah Gunungkidul menjadi suatu tantangan tersendiri bagi gerakan Komunitas Resan Gunungkidul, ketersediaan bibit yang mencukupi harus diupayakan untuk setiap musim tanam.

“Dari catatan kami, seiring waktu, kesadaran masyarakat lokal Gunungkidul terhadap kelestarian alam semakin baik, hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya permintaan bibit pohon dari masing-masing komunitas lokal,” lanjutnya.

Eko melanjutkan, saat ini permasalahan air yang dihadapi di berbagai wilayah Gunungkidul semakin kritis, kebutuhan masyarakat terhadap air, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun pertanian semakin besar, sementara kerusakan alam yang berakibat semakin langkanya air justru semakin bertambah.

Penyemaian bibit Resan di RBR. (KH/ Edi Padmo)

“Dibutuhkan kesadaran bersama seluruh komponen masyarakat Gunungkidul, ini upaya jangka panjang, apa yang kita tanam sekarang, 20 tahun kedepan baru bisa dirasakan manfaatnya,” tandas Eko.

Hal agak berbeda dituturkan oleh Sigit Nurwanto (31). Sigit adalah salah satu pemangku adat pasar Kawak, Siraman, Wonosari. Sigit menyebut bahwa dia dan teman-temannya bergabung dengan Komunitas Resan dengan tujuan di samping ketertarikan soal konservasi air juga untuk sarana melestarikan adat dan budaya warisan leluhur.

“Kami baru saja berduka, pohon Resan Beringin besar yang berusia ratusan tahun di situs pasar Kawak di tempat kami, mati karena ulah tangan orang tak bertanggung jawab,” ujar Sigit.

Menurut Sigit, leluhur dulu menanam pohon di tempat tempat strategis itu tujuannya sebagai monumental hidup, sebagai pengingat atau tetenger bagi generasi untuk tetap menjaga spirit perjuangan dan adat istiadat nenek moyang.

“Bagaimana mau menjaga adat, jika tinggalan leluhur yang berupa pohon Resan besar saja ada yang sengaja merusak dan mematikannya,” lanjut Sigit dengan nada gusar.

Fungsi Resan sebagai “tetenger” atau monumental hidup untuk menjaga budaya leluhur ini juga disampaikan oleh Syaida Ndaru (32). Ndaru berasal dari komunitas budaya “Ngawu-awu Langit”. kesehariannya dia adalah perangakat kalurahan yang menjabat sebagai Kamituwo di Kalurahan Ngawu, Kapanewon Playen.

“Masyarakat kami sudah tercukupi kebutuhan air sehari-hari dengan PAM, tapi jika sumber sumber air di tempat kami bisa hidup lagi, dan adat budaya menjaga sumber kembali dilakukan oleh masyarakat, tentu air akan kembali melimpah, dan air adalah lambang kemakmuran,” ujarnya.

Hari semakin sore, sambil menunggu waktu berbuka puasa, tampak para anggota Komunitas Resan Gunungkidul ini berdiskusi tentang gerakan mereka dalam aksi penghijauan di Gunungkidul. Hadirnya Rumah Bibit Resan yang ke 4 dari target 6 tempat untuk musim ini, bisa menjadi barometer, bahwa gerakan mereka walau dilakukan secara sukarela tapi betul-betul diperjuangkan sepenuh hati. [Edi Padmo]

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar