“Ada lagi menemui wilayah dengan tanamanh buah jambu klampok yang cukup banyak, maka disebutlah lokasi tersebut menjadi Desa Klampok,” ujarnya.
Sambung Padmo, Wono Kusumo dan Sunan Giring terus ke Selatan, Wono Kusumo kemudian menempati Wonontoro yang sebelumnya merupakan alas atau hutan. Diriwayatkan, setelah menjalani perjalanan kehidupan dengan masyarakat sekitar, sepeninggalnya, lantas ia dikubur atau disemayamkan di Wonontoro, Masih dalam satu kawasan makam atau petilasannya, pemanfaatan lahan disekelilingnya diikuti menjadi pemakaman umum.
Kemudian seperti diketahui, tokoh yang disebut Padmo bernama Sunan Giring, menempati lokasi di Giring, Desa Sodo. Dimungkinkan selepas masa periode waktu tersebut, pernah hidup atau menjadi pendahulu warga khususnya di Tapansari dan sekitarnya,seorang tokoh bernama Demang Ponco Tirto.
Ia sebagai leluhur, bahkan sebagian meyakini kawasan tersebut masih dalam penjagaannya, selain bekas tempat pertemuan dan bermusyawarah, tempat tersebut juga sebagai tempat semedi atau tapa.
Beberapa tokoh pendahulu yang pernah melakukan semedi pertama kali diantaranya; Mbah Dirun, ia bertapa 40 hari 40 malam dengan metode tapa mendhem, setelah itu Mbah Boncong, lalu Wiryo Semito dari Solo, kemudian terakhir Jogo Boyo.
“Untuk mengenang peristiwa yang dilakukan oleh leluhur atau cikal bakal, Ada bentuk ritual berupa kenduri selamatan atau nyadran di Punthuk Tapansari, waktunya berbarengan dengan adat tradisi Nyadran di Gunung Gambar, ada dua pilihan yakni Senin Legi Atau Kamis Legi,” urai Padmo lagi.
Apabila dicermati, sebelum sampai ke puncak, ada batuan yang diperkirakan berusia sangat tua, batuan tersebut seolah sengaja dibuat berundak melingkar. Ada keinginan pemerintah desa setempat dan pihak-pihak terkait untuk menjadikan Punthuk atau bukit kecil Tapansari menjadi lokasi yang dilindungi, atau dirawat secara khusus, tetapi karena terkendala status tanah yang ternyata milik pribadi warga, hingga saat ini belum ada tindakan apapun. (Kandar)







