Puluhan Perangkat Desa Peragakan Busana Batik

oleh -
Peragaan busana batik peringatan Hari Ibu Kecamatan Wonosari, Foto: KH/ Maria Anjani
iklan dispar
Peragaan busana batik peringatan Hari Ibu Kecamatan Wonosari, Foto: KH/ Maria Anjani
Peragaan busana batik peringatan Hari Ibu Kecamatan Wonosari, Foto: KH/ Maria Anjani

WONOSARI, (KH)–Puluhan ibu-ibu yang merupakan perangkat desa se-Kecamatan Wonosari menjadi peserta lomba peragaan busana batik, untuk memeringati Hari Ibu, pada Selasa (22/12/ 2015).

Dalam kegiatan yang digelar di Pendopo Kecamatan Wonosari ini, mereka mendapatkan kesempatan untuk mengikuti dua kategori lomba, busana batik resmi dan batik santai. Masing-masing dari mereka bukan hanya mampu berlenggak-lenggok layaknya para peraga busana profesional, melainkan juga melengkapi penampilan mereka dengan beragam aksesori pendukung. Misalnya kalung, aksesoris kerudung, pin hingga tas dengan warna yang saling padu-padan. Sebelumnya, para bapak juga turut tampil berlomba dalam kategori memeragakan busana kejawen lengkap.

Panitia kegiatan Peragaan Busana Batik, Bambang Setiawan ditemui di lokasi kegiatan mengatakan, peragaan busana ini wajib diikuti oleh perangkat dari 14 desa se-Kecamatan Wonosari. Kegiatan ini menjadi bentuk penghormatan kepada kaum ibu dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menggali potensi serta melestarikan budaya lewat busana batik. 

“Kita memilih busana batik, karena di Gunungkidul, penghasil batik ternyata bukan hanya Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, melainkan juga di Kecamatan Wonosari, sekarang sudah ada sejumlah kelompok pengrajin batik. Mencintai dan mengembangkan batik juga butuh momen, peragaan busana ini bisa menjadi sebuah momen untuk itu,” terangnya.

Salah satu peserta, Mei Pujiastuti, Pengurus PKK Desa Karangtengah mengaku partisipasinya dalam peragaan busana kali ini membuatnya cukup nervous. Pagi itu, ia yang mengikuti kategori batik resmi, memilih padanan batik walang kombinasi parang berwarna hijau tosca dan rok pensil berwarna oranye. Dipadu dengan kerudung berwarna oranye.

“Warna ini membuat saya terlihat segar,” ungkapnya.

Mei sendiri mengaku sudah mempersiapkan diri sejak pukul 07.00 WIB. Ketika disinggung makna Hari Ibu, ia mengungkapkan bahwa Hari Ibu menjadi sebuah momen yang luar biasa baginya yang merupakan single parent bagi dua orang anak yang sudah beranjak dewasa. 

“Untuk Hari Ibu pada tahun ini, ada yang berbeda bagi saya, apabila tahun-tahun sebelumnya saya mendapatkan ucapan Selamat Hari Ibu dari suami, saat ini tidak. Meski demikian, anak-anak selalu mendukung saya dan memberikan semangat untuk menjalani hari demi hari,” ujar Mei yang menjadi single parent karena sang suami tercinta, telah meninggal dunia ini.

Sedangkan salah satu peserta yang lain, Eka Ariestya menjelaskan, bahwa dirinya memilih menghadirkan batik dalam bentuk kebaya kutu baru dipadukan rok pensil. Mengingat saat ini kutu baru sedang menjadi tren dan Eka berupaya mengeksplorasinya.

Sebagai seorang ibu, Eka berpesan kepada anak muda untuk lebih menghormati ibu mereka.

“Karena menjadi seorang ibu itu harus rela berkorban. Korban perasaan, korban waktu, korban uang dan berkorban segala-galanya bagi anak,” tuturnya. (Maria Anjani)

Komentar

Komentar