GUNUNGKIDUL, (KH)— Ketersediaan air menjadi tantangan bagi petani di wilayah perbukitan karst Gunungkidul, terutama saat musim kemarau. Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, PT Pupuk Indonesia (Persero) bersama Rabu Biru Foundation membangun sarana irigasi pertanian di Gunungkidul melalui Program Mata Air Indonesia.
Fasilitas yang diresmikan pada Sabtu (24/10/2026) tersebut meliputi sumur bor sedalam 103 meter, tandon air beton berkapasitas 20.000 liter, pompa air, panel surya, serta jaringan pipa untuk mengalirkan air ke lahan pertanian.
Infrastruktur itu dirancang untuk mendukung pengairan lahan seluas 28 hektare dan memberikan manfaat kepada 93 petani penerima pupuk bersubsidi di wilayah setempat. Kehadiran sarana tersebut diharapkan membantu petani menjaga keberlangsungan pertanian sekaligus mengurangi risiko gagal panen akibat keterbatasan air.
Peresmian dilakukan oleh Ketua Dewan Pembina Rabu Biru Foundation, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto. Prosesi ditandai dengan pembukaan kran air dari bak penampungan menuju lahan pertanian.
Kalurahan Mertelu menjadi salah satu wilayah yang menghadapi tantangan pengairan karena karakteristik geografisnya berupa perbukitan dengan tanah kering dan kawasan karst berbatu. Selama ini, pertanian tadah hujan membuat aktivitas budidaya sangat bergantung pada ketersediaan air dari curah hujan. Karena itu, fasilitas irigasi pertanian dibangun di wilayah ini.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyampaikan bahwa ketersediaan air merupakan faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian. Menurutnya, pemanfaatan pupuk saja belum tentu menghasilkan panen optimal apabila tidak didukung pasokan air yang cukup.
“Ketersediaan air merupakan faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pertanian. Tanpa pasokan air yang memadai, potensi lahan dan penggunaan pupuk belum tentu dapat menghasilkan panen secara optimal,” ujar Rahmad.
Melalui Program Mata Air Indonesia, Pupuk Indonesia tidak hanya membangun infrastruktur air, tetapi juga memberikan pendampingan kepada petani. Kegiatan tersebut mencakup pelatihan budidaya untuk satu musim tanam, penggunaan varietas unggul yang adaptif terhadap kondisi kering, perawatan sumur bor, hingga penanganan pascapanen.
Pendampingan tersebut diharapkan membantu petani memanfaatkan fasilitas irigasi pertanian yang tersedia secara optimal, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada pembangunan sarana fisik.
Rahmad berharap masyarakat dan kelompok tani dapat bersama-sama menjaga serta merawat sumur bor, pompa, dan jaringan irigasi yang telah dibangun. Pemeliharaan fasilitas dinilai penting agar sarana tersebut dapat terus dimanfaatkan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Ditargetkan Dukung Produktivitas dan Kesejahteraan Petani
Ketua Dewan Pembina Rabu Biru Foundation, Siti Hediati Soeharto, berharap pembangunan infrastruktur air dapat memberikan manfaat nyata bagi petani, khususnya dalam menghadapi musim kemarau.
Ketersediaan air diharapkan membantu menjaga keberlangsungan kegiatan budidaya dan meningkatkan produktivitas pertanian. Ia juga berharap kolaborasi serupa dapat diperluas ke wilayah lain yang membutuhkan dukungan infrastruktur air.
“Kerja sama ini tidak hanya berhenti di sini. Kami berharap, ke depan, program serupa dapat hadir di daerah-daerah lain yang membutuhkan agar semakin banyak petani yang merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Salah satu petani penerima manfaat, Suyoto, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan Pupuk Indonesia bersama Rabu Biru Foundation. Ia berharap sarana irigasi tersebut dapat membantu mengatasi kendala kekurangan air yang selama ini dihadapi petani saat musim kemarau.
“Dengan bantuan ini harapannya hasil panen kami lebih melimpah. Tentunya meningkatkan kesejahteraan bagi petani di Mertelu,” ungkapnya.
Program Mata Air Indonesia merupakan bagian dari pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Pupuk Indonesia dengan pendekatan Creating Shared Value atau penciptaan nilai bersama. Program ini dijalankan melalui kolaborasi dengan Rabu Biru Foundation untuk membantu petani di lahan tadah hujan memperoleh akses air.
Selain Gunungkidul, program pembangunan infrastruktur air pertanian tersebut dilaksanakan di empat daerah lain, yakni Grobogan di Jawa Tengah, Pacitan dan Sampang di Jawa Timur, serta Kupang di Nusa Tenggara Timur.
Rahmad menegaskan bahwa upaya mendukung pertanian tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Kolaborasi dibutuhkan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi petani, terutama di wilayah yang menghadapi keterbatasan sumber daya air.
“Pupuk dan air sangat penting bagi pertanian. Pupuk Indonesia tidak bisa bekerja sendiri dan perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak, salah satunya Rabu Biru Foundation, untuk menghadirkan manfaat bagi petani di lima daerah,” tandasnya.
Selain meresmikan sarana irigasi, dalam kegiatan tersebut Pupuk Indonesia juga menyalurkan bantuan satu unit ambulans melalui Yayasan Sehat Hijau Sejahtera Yogyakarta. Bantuan ini diharapkan dapat memperkuat layanan kesehatan serta mendukung penanganan kondisi darurat medis bagi masyarakat.





