Prediksi Krisis Pangan 2030 Harus Diantisipasi Sejak Dini

oleh -
Pertanian di Gunungkidul. Foto: Kandar.
iklan dispar
Pertanian di Gunungkidul. Foto: Kandar.
Pertanian di Gunungkidul. Foto: Kandar.

WONOSARI, (KH)– Masyarakat perlu tahu tentang adanya prediksi bahwa tahun 2030 akan ada krisis pangan sehingga ada kesepahaman upaya bersama untuk menanggulanginya, hal tersebut disampaikan Mujiyana, SP MA selaku Kabid Ketahanan Pangan, Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Gunungkidul, Selasa, (30/12) di kantornya.

Menurutnya, prediksi tersebut didasarkan pada laju pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun, berbanding terbalik dengan jumlah lahan produktif pertanian yang ada, lahan pertanian semakin berkurang seiring perubahan fungsi tanahnya.

Seiring berjalannya waktu pertumbuhan penduduk mengindikasikan meningkatnya kebutuhan pangan, kemudian diikuti dengan kebutuhan lahan akan tempat tinggal. “hal itu tentu mengurangi lahan produktif pertanian,” jelas Mujiyana.

Sektor pariwisata yang menggeliat saat ini juga berdampak pada penurunan lahan produktif pertanian, misalnya dibangunnya kawasan wirausaha, meliputi pertokoan, lahan parkir, dan juga hotel atau penginapan. Ditambahkan olehnya, Selain itu pola konsumsi juga perlu diperhatikan.

Masih banyak hajatan atau tradisi di Gunungkidul jika dilihat dari kebutuhan olahan masakan cukup berlebihan. Jumlah petani semakin lama diprediksi juga semakin berkurang, profesi sebagai petani saat ini sepertinya dijauhi oleh pemuda.

Mujiyana menghimbau, kembali ke pangan lokal merupakan salah satu upaya untuk menanggulangi krisis pangan, konsumsi ketela, ubi jalar, shorgum, jagung, dan lainnya bisa menjadi alternatif pengganti karbohidrat atau makanan pokok selain beras.

“Masyarakat mestinya sadar dan terhenyak dengan prediksi tersebut, makan beras bukan berarti priyayi makan thiwul bukan berarti inferior/rendah, kita harus merubah pola pikir itu,” Pungkasnya. (Kandar)

Komentar

Komentar