Petani Bawang Merah Khawatir Jika Terjadi Hujan

oleh -
Rukino Petani bawang merah di Desa Karangrejek. KH/ Kandar
iklan dispar
Rukino Petani bawang merah di Desa Karangrejek. KH/ Kandar
Rukino Petani bawang merah di Desa Karangrejek. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Petani Bawang merah di Gunungkidul khawatir jika hujan masih terjadi lagi. Seperti diketahui  iklim kemarau saat ini sebagaimana disebutkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) disebut kemarau basah.

Dimana meski waktu telah memasuki musim kemarau, hujan terkadang masih saja terjadi. Sehingga membuat petani bawang merah, seperti di wilayah Desa Karangrejek ini was-was dengan tanaman bawang merahnya.

“Kalau terlalu basah tanaman bawang merah bisa terkena flek, padahal sulit penanganannya,” kata Rukino, warga Karanggumuk, Desa Karangrejek ini, Jumat, (29/7/2016).

Sambung dia, tanaman bawang merah miliknya telah berumur sekitar satu bulan, apabila flek menyerang,  bawang merah seluas 500 meter persegi itu terancam gagal panen. Serangan flek, ujarnya, ditandai dengan adanya ciri pada ujung daun mengering kecoklatan.

Dengan begitu, prediksi pendapatan kotor yang semestinya diperoleh sekitar Rp. 10 jutaan tak ia dapatkan. “pengalaman apabila terkena flek hasil penjualan paling hanya balik modal saja, kita rugi waktu dan tenaga,” ungkap dia.

Dirinya menambahkan, apabila tidak ada serangan hama dan gangguan cuaca, maka panen akan dilakukan hingga bawang merah berumur 70 hari. Hingga umur tersebut, tanaman bawang dalam kondisi maksimal.

“Hasil panen terbaik pada lahan seluas ini biasanya mencapai 900 kilogram bawang merah,” terang Rukino. (Kandar)

Komentar

Komentar