Pemilihan Lurah Masih Lama, Banner Saling ‘Menjatuhkan’ Bertebaran di Grogol

oleh -
pemilihan lurah
Banner saling sindir antar pendukung bakal calon lurah di Kalurahan Grogol, Kapanewon Paliyan, Gunungkidul. (KH)

PALIYAN, (KH),– Beberapa waktu lalu, banner dengan isi saling sindir dan ‘menjatuhkan’ bertebaran di Kalurahan Grogol. Banner tersebut sempat ditemui berada di jalan utama kalurahan, jalan antar dusun dan sudut-sudut strategis di kalurahan setempat.

Usut punya usut, ternyata banner tersebut merupakan banner yang terkait dengan agenda Pemilihan Lurah (Pilur) di Kalurahan Grogol, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul.

Isi dari banner yang terpasang diantaranya tertulis “Ora wani kelangan, ojo mlebu kalangan. Ora nduwe duir orasah nyeyengit”. “Golek Puthul entuk unthul, Mantul Pak Ekoo”. Yang lain berbunyi: “Orang bejat gunakan cara tak martabat, cepatlah tobat ajal sudah dekat”. Selain itu ada juga yang berbunyi: Tukang maksiat omong ayat, tangan najis nulis hadits” dan lain-lain.

Salah satu tokoh warga, Firmansyah mengakuinya. Banner tersebut memang dibuat oleh antar pendukung. Pun demikian dengan isinya, sengaja dibuat bertujuan untuk menyindir dan menjatuhkan bakal calon lurah tertentu.

Kemunculannya juga beriringan dengan rumor adanya ‘bakal calon lurah bayangan’ atau unthol. Disebutkan Firmansyah, mulanya di kalurahannya ada 3 bakal calon lurah.

“Saat ini ada isu bahwa bakal calon lurah ada 6. Tetapi selain 3 bakal calon lurah yang muncul lebih awal, tak ada lagi tokoh yang menunjukkan keinginan serius maju pada Pilur,” kata Firmansyah belum lama ini.

Maka, kata dia, diisiukan kuat, selain 3 yang benar-benar serius ingin maju, dituding ada ‘bakal calon lurah bayangan’. Isu adanya ‘bakal calon lurah bayangan’ itu bukan tanpa alasan. Isu yang hangat beredar memang ada salah satu bakal calon sengaja memunculkan ‘bakal calon lurah bayangan’ itu.

Lebih jauh disampaikan, ‘bakal calon lurah bayangan’ rumornya sengaja dimunculkan untuk mengeleminasi salah satu kandidat yang punya kans untuk meraup suara tinggi.

“Jika bakal calon lurah lebih dari lima, maka ada seleksi lagi berdasar beberapa aspek yang memang diatur dalam Perda,” imuh Firmansyah.

Melalui sambungan telepon, bakal calon lurah Grogol Sugiyarto, menampik ada isu tersebut. Menurutnya, mereka-mereka yang mau mendaftar memang punya niat dan kemauan sendiri. Sebab, yang belakangan muncul bukan orang-orang ‘biasa’. Maksud Giyarto, jago yang belakangan muncul punya pengalaman pernah menduduki jabatan penting pada kantor pemerintahan dan instansi.

“Ada mantan Kepala BPS di Jawa Tengah, Mantan Camat dan PNS aktif. Masak mereka mau mengorbankan harga diri dengan menjadi ‘bakal calon bayangan’,” timpalnya.

Sepengetahuan Sugiyarto, ada 6 bakal calon yang bakal maju pada pesta demokrasi pemilihan lurah. Namun demikian, sejauh ini diakui baru ada 3 yang sudah menunjukkan keseriusan, diantaranya menjalin komunikasi intens dengan pendukung serta berusaha menarik simpati warga.

“kalau saya sebatas menghubungi kolega dan rekan untuk membantu hajat saya ini. Persyaratan administrasi jelas sudah saya dipersiapkan, agar saat tiba waktunya tinggal jalan saja,” imbuh dia.

Kamitua Kalurahan Grogol, Winarto membenarkan di wilayahnya akan digelar Pilur. Pihaknya mengaku belum tahu pasti siapa saja yang hendak maju pada Pilur di Kalurahan Grogol.

“Harapannya tidak lebih dari lima. Tapi, kelihatannya banyak. Untuk banner sudah dicopot, sebab sebelumnya ada aduan warga karena meresahkan,” katanya singkat.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pemerintahan Desa, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3AKBPMD), Farkhan saat dihubungi menginformasikan, Pilur serentak di Gunungkidul akan dilaksanakan oleh 58 kalurahan di 17 kapanewon.

“Perkiraannya akhir Oktober 2021 mendatang,” kata dia.

Terkait salah satu syarat dapat dilangsungkannya Pilur, disebutkan, jumlah peserta calon lurah, harus minimal 2 dan maksimal 5. Jika lebih dari 5 bakal calon yang memenuhi persyaratan, maka akan ada seleksi tambahan.

“Seleksinya dilihat dari 4 aspek, yakni usia, tingkat pendidikan, pengalaman bekerja dalam bidang birokrasi pemerintahan, serta ujina tertulis. Nanti akan dilihat skor dari 4 aspek tersebut,” ungkap Farkhan.

Seleksi tersebut nanti akan dilakukan panilita pemilihan di tingkat desa. “Khusus untuk ujian tertulis panitia kalurahan bisa berkoordinasi dengan panitia kabupaten,” tukas dia. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar