Pemburu yang Ditemukan Meninggal Diduga Tertembak Senapannya Sendiri

oleh -4567 Dilihat
oleh
Penemuan pemburu burung dengan kondisi meninggal dunia. (foto: istimewa)

WONOSARI,(KH)— Geger kasus meninggalnya seorang pemburu yang ditemukan di tegalan Padukuhan Kalialang, Kalurahan Kalitekuk, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, Minggu (14/3/2021) kemarin, masih dalam penyelidikan kepolisian. Korban diketahui  bernama Kanang (40), warga Padukuhan Branjang, Kalurahan Ngawis, Kapanewon Karangmojo.

Kanang ditemukan meninggal dengan sebuah luka kecil di dekat ketiak sebelah kanan. Dari mulut dan hidung korban mengucurkan darah. Satreskrim Polres Gunungkidul sampai saat ini masih mendalami kasus yang menggegerkan warga Branjang ini. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh kepolisian, dugaan sementara korban meninggal dunia karena tertembak senapan angin miliknya sendiri.

Pernyataan ini disampaikan oleh Kasubbag Humas Polres Gunungkidul, Iptu Suryanto, Senin (15/3/2021) saat dikonfirmasi oleh awak media.

“Dalam pemeriksaan ditemukan adanya sebuah luka layaknya luka tembakan di dekat ketiak sebelah kanan, dekat Jantun.  Hal tersebut yang menjadi pemicu kematian korban,” ujar Suryanto.

Menurut Suryanto, kemungkinan pula peluru senapan angin ini masih bersarang di tubuh korban. Karena hasil pemeriksaan hanya ada satu lubang luka.

“Peluru senapan angin ini diduga berasal dari senapan anginnya sendiri. Kemungkinan peluru juga masih beada di dalam tubuh, bisa jadi peluru masuk ke tulang,” sambungnya.

Suryanto menyatakan, karena minimnya saksi di tempat kejadian, pihaknya kesulitan mencari data awal kronologis kejadian sebenarnya. Diketahui memang, korban ditemukan sudah tergeletak dalam keadaan meninggal oleh dua rekannya saat berburu.

Pihak kepolisian sampai saat ini masih melakukan pendalaman terkait peristiwa tersebut. Beberapa barang bukti yang diamankan yakni berupa senapan dan beberapa barang bawaan korban.

“Informasi dari saksi-saksi juga masih terus kami gali untuk menguak penyebab kematian korban,” tandas Suryanto. [Edi Padmo]

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar