Nelangsa Petani Gunungkidul, Ketela Busuk Sebelum jadi Gaplek

Gaplek warga Petir menjamur. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Gunungkidul saat ini tengah memasuki musim panen ketela atau singkong. Petani menyambut penuh harapan karena produktivitas ketela yang meningkat dibandingkan tahun lalu. Harapan harga yang stabil sehingga bisa segera diuangkan dan membawa manfaat langsung untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun sayang, alih-alih menuai untung, para petani justru merugi akibat kondisi ketela yang tidak sesuai dengan ekspetasi mereka.

Bacaan Lainnya

Seperti yang diungkapkan oleh Wardoyo, salah seorang petani di Padukuhan Petir C, Kalurahan Petir, Kapanewon Rongkop. Sejak bulan Juli kemarin, para petani sudah mulai memanen ketela yang di tanam di lahan mereka. Hampir serentak warga memanen ketela yang kemudian dijemur di lahan pertanian supaya menjadi gaplek.

Namun, cuaca tak mendukung membuat mereka nelangsa. Siang panas terik kemudian sore justru mendung dan malam harinya turun hujan. Kondisi ini membuat ketela yang hampir kering menjadi gaplek justru membusuk. Nilai jual pun anjlok seolah tak ada harga.

“Gaplek sekarang hanya Rp1000, paling maksimal Rp1.500 per kilogramnya. Itupun yang dalam kondisi bagus,” kata Wardoyo.

Menurutnya, harga saat ini jauh berbeda dengan sebelumnya. Harga gaplek putih bersih semula mencapai Rp2.500 sampai Rp3.000 per kilogramnya. Seolah menelan pil pahit, selain harga anjlok, gaplek mereka yang menghitam semakin tak ada harganya di pasaran.

Lha wong ketela basah saja hanya Rp500 per kilogramnya sekarang ini,” papar dia.

Biasanya para tengkulak memilih membeli gaplek dalam kondisi bersih. “Kemarin masih ada yang nawar mau beli meski kondisinya menghitam seperti ini. Ini yang bagian luar saya kerik biar agak hilang,” tambah dia.

Ia bersama petani lain berharap ada andil dari pemerintah. Pemerintah mampu menampung hasil panen para petani sehingga harga jual bisa stabil.

Sementara itu, Lurah Petir, Sarju mengatakan, hampir sebagian besar petani di wilayahnya memanfaatkan lahan mereka untuk menanam ketela pasca menanam padi. Pada Bulan Juli Agustus ini merupakan masa panen ketela. Namun sayangnya, karena cuaca yang masih sering turun hujan, hasil panenan petani menjadi tidak maksimal

“Kalau untuk produktivitasnya itu ada peningkatan dibandingkan dengan tahun kemarin. Tapi ya itu tadi, waktu mau digaplek turun hujan jadi ambyar tidak maksimal gapleknya. Bahkan membusuk dan tidak laku dijual,” keluh Sarju.

Anggota DPR RI, Totok Daryanto yang tengah melakukan penjaringan aspirasi di wilayah Gunungkidul prihatin dengan kondisi demikian. Keluhan masyaarakat atas anjloknya nilai jual gaplek di daerah akan menjadi salah satu catatan untuk pembahasan di pemerintah pusat.

“Turunnya signifikan sekali, dari yang biasanya Rp3000 sekarang hanya Rp1500, kasihan to petani kalau seperti ini. Temuan ini akan menjadi bahan evaluasi dan bahasan kami kedepan, pemerintah perlu mencari solusi. Demi semakin terwujudnya ketahanan pangan,” ujar dia.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait