Menyibak Tabir Penghuni Rumah Peradaban Gua Braholo Rongkop

manusia purba
Ekskavasi oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di Gua Braholo. (KH/ Kandar).
Peneliti arkeologi di Situs Goa Braholo, Dr Thomas Sutikna. KH/ Kandar

Lebih jauh disampaikan, Manusia penghuni Gua Braholo telah mulai membuat peralatan dari tulang dan kerang. Alat berupa berbagai lancipan,berbagai jarum, pisau, alat serut dan alat upam. Kerang-kerang laut tersebut dibawa dari pantai selatan. Di level 7.000 tahun lalu, manusia penghuni Gua Braholo juga telah mengenal seni.

“Di Gua Braholo juga ditemukan hiasan berupa manik-manik dari cangkang kerang laut. Berdasar fosil yang ditemukan pada salah satu individu sudah mengenal sistem penguburan primer. Sementara yang lain mengenal sistem penguburan sekunder,” jelas Sutikna lagi.

Bacaan Lainnya

Keberadaan tulang belulang fauna yang cukup melimpah di Gua Braholo membuktikan bahwa gua tersebut digunakan sebagai tempat bermukim. Sebagian dari tulang dan cangkang itu merupakan sisa-sisa makanan manusia yang hidup pada awal kala Holosen itu. Para arkeolog sepakat menyebut Gua Braholo sebagai rumah peradaban.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Seksi Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Ruly Adriadi menambahkan, Goa Braholo telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya berdasar kepulusan Gubernur DIY Nomor: 349/ KEP/ 2012/ tentang penetapan Cagar Budaya. Pemkab Gunungkidul juga telah menetapkannya sebagai Daftar Warisan Budaya melalui keputusan Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Kabupaten Gunungkidul Nomor: 033/KPTS/ WB/ 2014 tentang Daftar Warisan Budaya.

“Saat ini dalam proses penetapan cagar budaya menurut undang-undang RI No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” tuturnya.

Ruly menandaskan, nilai penting Gua Braholo cukup tinggi, yaitu merupakan salah satu lokasi yang difungsikan sebagai tempat hunian masa pra sejarah dengan rentang waktu lama yang mengandung bukti sisa-sisa kehidupan masa lampau yang lengkap. Keberadaan Gua Braholo juga menunjukkan kompleksitas kegiatan manusia yang beragam, mulai dari industri peralatan, penguburan dan kegiatan sehari-hari.

Untuk tahun ini Dinas kebudayaan DIY akan melakukan tindak lanjut dengan mendokumentasikan gua dengan teknologi 3D laser scanner dan penjagaan awal potensi gua. Sementara, direncanakan pada 2018 mendatang akan dilakukan kajian terkait pengembangan dan pemanfaatan situs Goa Braholo. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait