Sebelum pergi, ia juga diminta jika nanti hendak mengumandangkan adzan jangan sampai terdengar dari wilayah Bayat. Sesampainya di tempat tujuan, ia bertemu tokoh di Padukuhan Gambarsari yakni Kyai Gambarsari, yang tak lain cikal bakal warga Padukuhan Gambarsari. Keduanya lantas berniat membangun sebuah Langgar di puncak sebuah bukit. Suatu hari Kyai Amat Metaram mengumandangkan adzan. Ternyata suaranya terdengar hingga ke wilayah Bayat.
Hal tersebut melanggar arahan yang disampaikan Sunan Bayat sebelumnya. Maka setelah dipergunjingkan di wilayah Bayat, secara tiba-tiba bangunan Langgar bergeser dengan sendirinya. Disebutkan, Langgar bergeser sejauh 250 meter dari tempat semula menempati tempat yang sekarang.
Hingga saat ini bentuk bangunan tidak mengalami perubahan. Jika mengalami kerusakan, utamanya di bagian atap warga akan melakukan perbaikan. Bersama-sama warga mencari rumput ilalang kemudian membuat atap baru.
Adi Prayitno melanjutkan cerita, pada masa Kyai Kasangali, empat tiang dan rangka atap Masjid Tiban pernah dilakukan penggantian. Saat melakukan perbaikan, Kyai Kasangali menjual seekor kerbau untuk membeli kayu jati di wilayah Klaten. Tiang pengganti berukuran sedikit lebih tinggi dari tiang semula. Tiang yang dicopot hingga saat ini masih ditempel pada tiang-tiang pengganti.
Warga yang tinggal dekat dengan masjid terkadang masih menggunakannya untuk beribadah shalat. Karna ukuran yang kecil ruang masjid hanya dapat menampung sekitar 9 orang saja. Selain sebagai tempat ibadah, banyak pula yang datang dari luar Gunungkidul untuk melakukan ritual doa.
Warga setempat, Paijo menyebut, pengunjung datang dari Solo, Karanganyar, Sragen, dan Boyolali. “Menurut keterangan sesepuh, masjid berumur sekitar 300 tahun,” ujar Paijo.
Keberadaannya saat ini telah diinventarisasi oleh Bidang Pelestari Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Gunungkidul sebagai bangunan warisan budaya pada masa Islam. (Kandar)





