Masih Ingat Orang Curi Pakaian Dalam?! Diduga Kuat Ia Alami Fetish, Apa Itu?

oleh -
Ilustrasi (sumber: Mine News ID)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Awal minggu lalu, heboh dikabarkan seseorang memiliki kebiasaan aneh, yakni mencuri pakaian dalam wanita. Kabar seperti yang termuat di laman berikut ini menghebohkan banyak orang.

Psikolog sekaligus pendiri Biro Psikologi Prima Consultant, Ardi Prima Sari mengatakan, seseorang yang melakukan tindakan tak lazim itu ditengarai mengalami Fetish.

“Kata Fetish berasal dari bahasa spanyol Feitico yang arti harafiahnya terobsesi pada hal yang mengasyikkan,” kata Sari.

ASN yang bertugas di Fasilitas Kesehatan (Faskes) di Kabupaten Sleman ini melanjutkan, ada yang disebut dengan Fetisme Sexual,
yaitu, munculnya daya tarik Sexual terhadap benda mati atau bagian tubuh tertentu yang secara umum dipandang bukan sebagai objek Sexual.

Benda umum lainnya yang termasuk Fetish diantaranya, alas kaki, sarung tangan, barang dari karet, dan pakaian dari kulit. Bagian tubuh yang berhubungan dengan fetisisme termasuk kaki, jari kaki, dan rambut.

Berdasar berbagai literatur, ungkap dia, Fetish bisa disebabkan oleh pengalaman traumatis seperri kekerasan Sexual, atau pengalaman erotis waktu kecil.

“Fetish paling umum adalah celana dalam wanita atau high heels. Cirinya, jika tertarik dan menimbulkan gairah sexual pada suatu benda selama kurang lebih 6 bulan, yang bersangkutan sulit meningkatkan gairah seksual tanpa benda tersebut, dan menggunakan benda tersebut dalam fantasi seksualnya,” papar warga asal Paliyan ini.

Ardi Primasari, pendiri Biro PSikologi Prima Consultant. (dok. Sari)

Lebih jauh disampaikan, Fetish terjadi sebagai upaya menghindari kecemasan dengan mengalihkan dorongan libido dengan objek yang tidak sesuai.

Karena fetish dialami banyak individu, diagnosis kelainan fetish atau fetishistic disorder hanya diberikan jika ada stres atau tekanan yang menyertainya atau gangguan dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang fungsi penting lainnya sebagai akibat dari fetish.

Orang-orang yang mengidentifikasi diri sebagai fetishists tetapi tidak melaporkan gangguan klinis terkait akan dianggap memiliki fetish tetapi bukan gangguan fetishistic.

“Fetishist (orang dengan fetish) biasanya memegang, menggosok, mengecap, atau mencium benda fetish untuk kepuasan seksual atau meminta pasangannya untuk mengenakan objek tersebut selama aktivitas seksual,” imbuh Sari.

Gangguan Fetish, sambungnya dapat ditanggulangi dengan terapi CBT yakni Cognitive Behavior Teraphy. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar