GUNUNGKIDUL, (KH), — Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, meninjau langsung lokasi longsor di Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen, Rabu (18/2) pagi. Dalam kunjungan tersebut, sejumlah rekomendasi disampaikan sebagai langkah penanganan bencana, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Bencana longsor dan banjir yang terjadi pada Selasa sore mengakibatkan 12 rumah warga rusak serta tergenang lumpur. Penanganan awal telah dilakukan oleh petugas gabungan sejak pascakejadian, termasuk pembersihan material longsor dan pendistribusian bantuan logistik.
Dari belasan rumah terdampak, satu rumah dinilai memiliki tingkat kerawanan paling tinggi. Letaknya berada di bagian paling atas, tepat di bawah bukit yang mengalami longsor cukup parah. Material tanah bahkan masuk ke pekarangan hingga ke dalam rumah warga.
Meski kerusakan hanya terjadi pada sebagian bangunan, rumah tersebut tidak direkomendasikan untuk dihuni kembali karena berpotensi membahayakan keselamatan penghuninya.
“Satu rumah ini masuk dalam daftar pantauan rawan bencana selama 10 tahun terakhir. Untuk itu kami berencana akan merelokasinya,” ujar Endah.
Rencana Relokasi dan Pendekatan Persuasif
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tidak akan serta-merta mengeksekusi relokasi. Prosesnya akan diawali dengan edukasi dan pendekatan kepada pemilik rumah, mengingat keputusan meninggalkan tempat tinggal yang telah ditempati puluhan tahun bukan hal mudah.
“Pendekatan dan edukasi akan dilakukan. Pasti berat meninggalkan tanah yang sudah lama ditempati. Tetapi ini berkaitan dengan keamanan demi nyawa,” jelasnya.
Pemkab Gunungkidul akan berkoordinasi dengan pihak kapanewon dan kalurahan untuk menentukan lokasi relokasi. Salah satu opsi yang memungkinkan adalah pemanfaatan tanah sultan ground atau tanah kas desa bagi warga miskin terdampak bencana.
Sistem pengadaan tanah juga akan dibahas bersama agar proses relokasi berjalan sesuai aturan dan kebutuhan warga.
Terkait 12 rumah terdampak longsor di Padukuhan Jono, Bupati meminta warga untuk sementara waktu tidak kembali ke rumah masing-masing sampai kondisi benar-benar aman.
“Kami minta warga mengungsi dulu. Jika intensitas hujan tinggi kembali, dikhawatirkan terjadi longsor susulan,” paparnya.
Saat ini tercatat sebanyak 51 warga mengungsi ke rumah kerabat di lokasi yang lebih aman. Pemerintah juga telah mendirikan dapur umum untuk mendukung kebutuhan relawan dan warga selama masa tanggap darurat.
Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono, menambahkan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan DPUPRKP terkait realisasi relokasi rumah prioritas tersebut.
“Hanya satu rumah yang menjadi prioritas relokasi dengan mempertimbangkan faktor keamanan keluarga. Diupayakan tahun 2026 menggunakan anggaran dari DPUPRKP,” ungkapnya.
Selain itu, bantuan logistik berupa makanan dan peralatan telah didistribusikan sejak pascakejadian untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak tetap terpenuhi.
Dengan langkah ini, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berharap penanganan longsor di Padukuhan Jono dapat berjalan optimal, sekaligus meminimalkan risiko bencana serupa di kemudian hari.





